Monthly Archives: September 2013

Kajian Umum Purworejo “Tanda-tanda Akhir Zaman”


KAJIAN UMUM PURWOREJO

Hari       : Hari Ahad

Tanggal : 6 Oktober 2013

Waktu   : Pukul 9.30 (on Time)

Materi   : “Iman Kepada Hari Akhir:Tanda tanda Akhir Zaman”

Pemateri :  Al-Ustadz Abu Salman (Pemateri Radio Muslim Jogjakarta)

Tempat    : MAsjid Al-Hidayah Perum Mranti Purworejo

Gratis untuk Umum Ikhwan dan Akhwat…..AJAK SANAK SAUDARA, KERABAT DAN HANDAI TAULAN…MENGHADIRI MAJELIS ILMU…

Kajian purworejo tanda-tanda akhir zaman

 

Iklan

TABLIGH AKBAR INDAHNYA NIKMAT KEAMANAN SEBUAH NEGERI


Insya Alloh…Purworejo 10 November 2013 JAM 08.30 SD SELESAI
TABLIGH AKBAR DAN KAJIAN ILMIYAH bersama Polres Purworejo “INDAHNYA NIKMAT KEAMANAN SEBUAH NEGERI” bersama al Ustadz Zaenal Abidin bin Syamsudin,Lc di Masjid Sakinah Tanuprayan Loano -pinggir jalan raya Magelang-purworejo..terbuka Untuk UMUM putra dan putri cp.085729912875

TABLIGH AKBAR PURWOREJO 10 NOVEMBER 2013

 

AL-WAJIZ: 01 Thaharah -> 02 Bab Najaasat


Oleh
Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi
An-Najaasaat adalah bentuk plural dari najasah, yaitu semua yang dianggap menjijikkan oleh orang yang bertabiat normal. Mereka menjaga diri darinya dan mencuci pakaian mereka jika terkena olehnya, seperti kotoran dan air seni.[1]
Hukum asal segala sesuatu adalah boleh dan suci. Barangsiapa menyatakan najisnya suatu materi, maka ia harus mendatangkan dalil. Jika sesuai, maka ia benar. Namun bila tidak bisa, atau ia membawakan sesuatu yang tidak bisa dijadikan hujjah, maka kita wajib mengikuti hukum asal dan al-bara-ah al-ashliyyah (yaitu se-orang hamba tidak dikenai kewajiban hukum hingga datangnya dalil.-ed).[2] Karena hukum najis adalah hukum pembebanan yang terkait dengan (seharusnya diketahui) semua orang. Maka, tidak boleh mengatakan tentang najisnya sesuatu kecuali dengan dalil. [3]

 


 

[1] Ar-Raudhah an-Nadiyyah (I/12).
[2] As-Sail Al- Jarraar (I/31)
[3] Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 834)], ar-Raudhah an-Nadiyyah (I/15)
————————————
Sumber 1: Al-Wajiiz fi Fiqh As-Sunnah, Syaikh Abdul Adziim Al-Badawy
Sumber 2: almanhaj.or.id

AL-WAJIZ: 01 Thaharah -> 01 Bab Air


air

Oleh
Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi
Thaharah secara bahasa berarti suci dan bersih dari hadats. Sedangkan menurut istilah bermakna menghilangkan hadats dan najis.[1]
Bab Air
 
Semua air yang turun dari langit dan keluar dari bumi adalah suci dan menyucikan.
Dasarnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala
وَهُوَ الَّذِي أَرْسَلَ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ ۚ وَأَنزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً طَهُورًا
“Dia-lah Yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira yang dekat sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih.” [Al-Furqaan: 48]
Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang laut:
هُوَ الطَّهُوْرُ مَاؤُهُ، اَلْحِلُّ مَيْتَتُهُ
“Air laut itu suci dan menyucikan serta halal bangkainya.” [2]
Juga sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang sumur Budha’ah:
إِنَّ الْمَاءَ طَهُوْرٌ لاَ يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ.
“Sesungguhnya air itu suci dan menyucikan, tidak dinajiskan oleh sesuatu pun.”
Air tetap dalam kesuciannya sekalipun bercampur dengan sesuatu yang suci selama tidak keluar dari keasliannya (kemutlakn)nya. (Maksudnya, air tersebut masih dinamai air saja. Berbeda dengan air yang sudah dalam bentuk lain, minuman seeperti kopi, teh, susu dan lainnya. Di mana air tersebut bercampur dengan zat-zat yang suci namun telah keluar dari kemutlakannya. Air semacam ini suci namun tidak mensucikan (tidak boleh dipakai untuk bersuci). Ed.)
Dasarnya adalah sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para wanita yang memandikan jenazah puteri beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
اِغْسِلْنَهَا ثَلاَثًا أَوْ خَمْسًا أَوْ أَكْثَرَ مِنْ ذلِكَ إِنْ رَأَيْتُنَّ بِمَاءٍ وَسِدْرٍ، وَاجْعَلْنَ فِي اْلآخِرَةِ كَافُوْرًا أَوْ شَيْئًا مِنْ كَافُوْرٍ.
“Mandikanlah ia tiga kali, lima kali atau lebih dengan air dan bidara jika menurut kalian perlu. Dan jadikanlah basuhan terakhir dengan kapur barus atau sedikit dengannya.” [3]
Tidaklah air itu dihukumi najis meskipun terdapat najis padanya kecuali jika ia berubah karenanya.
Dasarnya adalah hadits Abu Sa’id. Dia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya: “Wahai Rasulullah, bolehkah kami wudhu di sumur Budha‘ah?” Yaitu sumur yang di sana dibuang darah haidh, daging anjing, dan kotoran.
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
اَلْمَاءُ طَهُوْرٌ لاَ يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ.
“Air itu suci dan menyucikan, tidak dinajiskan oleh suatu apa pun.” [4]

[1] Al-Majmuu’ Syarh Al- Muhadzdzab (I/79).
[2] Shahih: Shahiih Sunan Ibn Majah (no. 309), Muwaththa’ al-Imam Malik (XXVI/ 40), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/152 no. 83), Sunan at-Tirmidzi (I/47 no. 69), Sunan Ibni Majah (I/136 no. 386), Sunan an-Nasa-i (I/176).
[3] Muttafaq ‘alaihi: Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (III/125 no. 1253)], dan Shahiih Muslim (II/646 no. 939)
[4] Shahiih: Irwaa Al- Ghaliil (no. 14)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/127, 126 no. 66, 67), Sunan at-Tirmidzi (I/45 no. 66) dan Sunan an-Nasa-i (I/174). Al-Mubarakfuri berkata dalam Tuhfatul Ahwadzi (I/204), “Ath-Thayyibi ber-kata, ‘Makna perkataannya, ‘Yang dibuang di situ’ adalah, sumur itu dulu dari aliran beberapa lembah yang kemungkinan didatangi penghuni padang pasir dan membawa kotoran yang ada di sekitar rumah mereka tadi. Banjir lantas membawa dan melemparkannya ke dalam sumur. Penutur menceritakan dengan kata-kata yang mengesankan seolah yang membuang adalah manusia, karena minimnya agama mereka. Hal ini tidak dibenarkan oleh seorang muslim pun, maka bagaimana mungkin dilakukan oleh umat dari kurun terbaik dan paling utama. Saya katakan (al-Mubarakfuri), “Beberapa orang dari kalangan ahlul ilmi juga berpendapat demikian. Pendapat inilah yang tampak kebenarannya.”
 
—————————————————–
 
Sumber 1: Al-Wajiiz fi Fiqh As-Sunnah, Syaikh Abdul Adziim Al-Badawy
Sumber 2: almanhaj.or.id
Untuk Lebih jelasnya silahkan Bapak-bapak, Ibu-ibu, Mas-mas, Mbak-mbak, adik-adik, Ikhwan-ikhwan di Purworejo dan sekitarnya  mengikuti kajian rutin fiqh kitab Al Wajiz yang insya Allah di isi oleh Ustadz Amir Assoronji, Lc dari Jogja tiap ahad ke 4 dari jam 09.00-dzuhur di Masjid Al Hidayah (Perum Mranti) CP : 085729912875 (Abu Ahmas Husni)
al-wajiz

Dukung Pendirian Radio Rodja (Sunnah) Purworejo


rodja purworejo

MAJELIS TA’LIM AL-ATSARI PURWOREJO
REKOMENDASI KEMENTERIAN AGAMA
KANTOR KABUPATEN PURWOREJO
No : kd.11.06/5.d/BA.00/588/2007

PEMBANGUNAN RADIO DAKWAH ISLAM

 ”RADIO RODJA”

RADIO DAKWAH AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH

DI WILAYAH KABUPATEN PURWOREJO DAN SEKITARNYA

Untuk Muhsinin/Dermawan di Bumi Allah

Semoga Allah memberikan keberkahan atas ilmu, amal, harta dan keluarga bagi mereka

Rekening wakaf Radio :

Bank BNI Syari’ah Cab. Semarang No: 0157725847 an. Husni Hadiyanto

Kontak Person : 085729912875,082138429697

Sekretariat : Toko Buku Media Hidayah, Jl. Jend. Sudirman 71 (Timur RSUD Purworejo)

Update Donasi sampe hari ini

Alhamdulillah update donasi pendirian radio rodja purworejo sampai hari ini AHAD 25 Agustus 2013…
1. Hamba Alloh – Jakarta Rp. 1.000.000,00
2. Hamba Alloh – Purworejo Rp. 100.000,00
3. Hamba Alloh- Bekasi Rp.386.199.00
4. Adi Wibowo- Purworejo Rp. 100.000,00
5. Abu Naufa-kudus 15/08/2013 via bni syariah Rp. 500.000,00
6.keluarga bp. Heri joko-Tangerang 18/08/2013 via bni syariah Rp.2.000.000,00
7. Hamba Alloh via rekening akh sunaryo 19/08/2013 Rp. 250.000,00
8. Hamba Alloh-di bumi Alloh 21/08/2013 via bni syariah Rp.250.000,00
9. Upit Fitria-Bumi Alloh 22/08/2013 via bni syariah Rp.650.000,00
10. Fulan bin Fulan –di kota X 22/08/2013 via BRI akh sunaryo Rp. 500.000,00
11. Surip Lestari-Sentolo 23/-8/2013 via akh Sunaryo Rp.250.000,00
12. Bowan/Karmiyati- via BCA akh sunaryo Rp. 500.000,00
jumlah donasi infaq sementara Jumlah Rp. 6.486.119,00
Alhamdulillah Alladzi bini’matihi Tatimmush Shalihaat…

Untuk lebih jelasnya silahkan gabung di fanspage Dukung Pendirian radio sunnah (rodja) purworejo

https://www.facebook.com/groups/375149128120/