Category Archives: Thaharah

Jumat Ganjil Mengaji di Purworejo


14192652_1268196453192148_8619230657685748031_n

AL-WAJIZ: 01 Thaharah -> 02 Bab Najaasat


Oleh
Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi
An-Najaasaat adalah bentuk plural dari najasah, yaitu semua yang dianggap menjijikkan oleh orang yang bertabiat normal. Mereka menjaga diri darinya dan mencuci pakaian mereka jika terkena olehnya, seperti kotoran dan air seni.[1]
Hukum asal segala sesuatu adalah boleh dan suci. Barangsiapa menyatakan najisnya suatu materi, maka ia harus mendatangkan dalil. Jika sesuai, maka ia benar. Namun bila tidak bisa, atau ia membawakan sesuatu yang tidak bisa dijadikan hujjah, maka kita wajib mengikuti hukum asal dan al-bara-ah al-ashliyyah (yaitu se-orang hamba tidak dikenai kewajiban hukum hingga datangnya dalil.-ed).[2] Karena hukum najis adalah hukum pembebanan yang terkait dengan (seharusnya diketahui) semua orang. Maka, tidak boleh mengatakan tentang najisnya sesuatu kecuali dengan dalil. [3]

 


 

[1] Ar-Raudhah an-Nadiyyah (I/12).
[2] As-Sail Al- Jarraar (I/31)
[3] Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 834)], ar-Raudhah an-Nadiyyah (I/15)
————————————
Sumber 1: Al-Wajiiz fi Fiqh As-Sunnah, Syaikh Abdul Adziim Al-Badawy
Sumber 2: almanhaj.or.id

AL-WAJIZ: 01 Thaharah -> 01 Bab Air


air

Oleh
Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi
Thaharah secara bahasa berarti suci dan bersih dari hadats. Sedangkan menurut istilah bermakna menghilangkan hadats dan najis.[1]
Bab Air
 
Semua air yang turun dari langit dan keluar dari bumi adalah suci dan menyucikan.
Dasarnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala
وَهُوَ الَّذِي أَرْسَلَ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ ۚ وَأَنزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً طَهُورًا
“Dia-lah Yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira yang dekat sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih.” [Al-Furqaan: 48]
Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang laut:
هُوَ الطَّهُوْرُ مَاؤُهُ، اَلْحِلُّ مَيْتَتُهُ
“Air laut itu suci dan menyucikan serta halal bangkainya.” [2]
Juga sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang sumur Budha’ah:
إِنَّ الْمَاءَ طَهُوْرٌ لاَ يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ.
“Sesungguhnya air itu suci dan menyucikan, tidak dinajiskan oleh sesuatu pun.”
Air tetap dalam kesuciannya sekalipun bercampur dengan sesuatu yang suci selama tidak keluar dari keasliannya (kemutlakn)nya. (Maksudnya, air tersebut masih dinamai air saja. Berbeda dengan air yang sudah dalam bentuk lain, minuman seeperti kopi, teh, susu dan lainnya. Di mana air tersebut bercampur dengan zat-zat yang suci namun telah keluar dari kemutlakannya. Air semacam ini suci namun tidak mensucikan (tidak boleh dipakai untuk bersuci). Ed.)
Dasarnya adalah sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para wanita yang memandikan jenazah puteri beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
اِغْسِلْنَهَا ثَلاَثًا أَوْ خَمْسًا أَوْ أَكْثَرَ مِنْ ذلِكَ إِنْ رَأَيْتُنَّ بِمَاءٍ وَسِدْرٍ، وَاجْعَلْنَ فِي اْلآخِرَةِ كَافُوْرًا أَوْ شَيْئًا مِنْ كَافُوْرٍ.
“Mandikanlah ia tiga kali, lima kali atau lebih dengan air dan bidara jika menurut kalian perlu. Dan jadikanlah basuhan terakhir dengan kapur barus atau sedikit dengannya.” [3]
Tidaklah air itu dihukumi najis meskipun terdapat najis padanya kecuali jika ia berubah karenanya.
Dasarnya adalah hadits Abu Sa’id. Dia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya: “Wahai Rasulullah, bolehkah kami wudhu di sumur Budha‘ah?” Yaitu sumur yang di sana dibuang darah haidh, daging anjing, dan kotoran.
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
اَلْمَاءُ طَهُوْرٌ لاَ يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ.
“Air itu suci dan menyucikan, tidak dinajiskan oleh suatu apa pun.” [4]

[1] Al-Majmuu’ Syarh Al- Muhadzdzab (I/79).
[2] Shahih: Shahiih Sunan Ibn Majah (no. 309), Muwaththa’ al-Imam Malik (XXVI/ 40), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/152 no. 83), Sunan at-Tirmidzi (I/47 no. 69), Sunan Ibni Majah (I/136 no. 386), Sunan an-Nasa-i (I/176).
[3] Muttafaq ‘alaihi: Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (III/125 no. 1253)], dan Shahiih Muslim (II/646 no. 939)
[4] Shahiih: Irwaa Al- Ghaliil (no. 14)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/127, 126 no. 66, 67), Sunan at-Tirmidzi (I/45 no. 66) dan Sunan an-Nasa-i (I/174). Al-Mubarakfuri berkata dalam Tuhfatul Ahwadzi (I/204), “Ath-Thayyibi ber-kata, ‘Makna perkataannya, ‘Yang dibuang di situ’ adalah, sumur itu dulu dari aliran beberapa lembah yang kemungkinan didatangi penghuni padang pasir dan membawa kotoran yang ada di sekitar rumah mereka tadi. Banjir lantas membawa dan melemparkannya ke dalam sumur. Penutur menceritakan dengan kata-kata yang mengesankan seolah yang membuang adalah manusia, karena minimnya agama mereka. Hal ini tidak dibenarkan oleh seorang muslim pun, maka bagaimana mungkin dilakukan oleh umat dari kurun terbaik dan paling utama. Saya katakan (al-Mubarakfuri), “Beberapa orang dari kalangan ahlul ilmi juga berpendapat demikian. Pendapat inilah yang tampak kebenarannya.”
 
—————————————————–
 
Sumber 1: Al-Wajiiz fi Fiqh As-Sunnah, Syaikh Abdul Adziim Al-Badawy
Sumber 2: almanhaj.or.id
Untuk Lebih jelasnya silahkan Bapak-bapak, Ibu-ibu, Mas-mas, Mbak-mbak, adik-adik, Ikhwan-ikhwan di Purworejo dan sekitarnya  mengikuti kajian rutin fiqh kitab Al Wajiz yang insya Allah di isi oleh Ustadz Amir Assoronji, Lc dari Jogja tiap ahad ke 4 dari jam 09.00-dzuhur di Masjid Al Hidayah (Perum Mranti) CP : 085729912875 (Abu Ahmas Husni)
al-wajiz