Arsip Blog

Info Kajian untuk Umum ๐Ÿ‚ *PURWOREJO* Bersama: ๐ŸŽ™Al Ustadz Firanda Andirja, MA (Mahasiswa S3 bidang Aqidah univ.Islam Madinah,Pengajar Tetap Di Masjid Nabawi)


๐Ÿƒ Info Kajian untuk Umum
๐Ÿ‚ *PURWOREJO*
Majelis Ilmu…Taman Taman Surga…
ุงู ู†ู’ ุดูŽุข ุกูŽ ุงู„ู„ู‘ู‡ู ุชุนุงู„ู‰

Bersama:
๐ŸŽ™Al Ustadz Firanda Andirja, MA (Mahasiswa S3 bidang Aqidah univ.Islam Madinah,Pengajar Tetap Di Masjid Nabawi)

๐Ÿ“– MATERI:
MERAIH KHUSNUL KHATIMAH

๐Ÿ—“Sabtu,25 Syawal 1437/
30 Juli 2016

๐Ÿ•ฐbakda maghrib sd jam 21.00

๐Ÿ•Œ Masjid Sebomenggalan Kota Purworejo
_________________๐ŸŒด๐ŸŒด๐ŸŒด๐ŸŒด
KAJIAN AKBAR
๐Ÿ“—NASEHAT BUAT SI KAYA DAN SI MISKIN

๐Ÿ“… WAKTU
Hari ahad,26 Syawal 1437 H / 31 Juli 2016
Jam 08.30 – dhuhur

๐ŸšฉTEMPAT
Masjid Jami As Sakinah Prayan Loano purworejo

๐ŸŽ™Sambutan: AKP Markotip,Kapolsek Loano (Mewakili Kapolres Purworejo)

๐Ÿ“ž CP / Info
085729912875

Present by:
๐Ÿš“Komunitas Masyarakat Cinta Polri KOMASCIPOL PURWOREJO
๐Ÿ€Yayasan Lajnah Istiqomah Purworejo
๐ŸŒ™Takmir Masjid Jami’ Sakinah & Sebomenggalan
๐ŸƒGrup Whasctapp Ahlus Sunnah Purworejo-Dakwah dan Bimbingan Islam
didukung oleh:

KEPOLISIAN RESORT PURWOREJO

~~~~~~~~~~~~~~~~~

ู…ูŽู†ู’ ุฏูŽู„ู‘ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฎูŽูŠู’ุฑู ููŽู„ูŽู‡ู ู…ูุซู’ู„ู ุฃูŽุฌู’ุฑู ููŽุงุนูู„ูู‡ู

“Barangsiapa menunjukkan kepada kebaikan, maka ia mendapatkan pahala sebagaimana orang yang melakukan.” [HR. Muslim, 3509]

Silakan disebarkan

————
Biodata singkat ustadz Firanda.ุญูุธู‡ ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰

Nama: Firanda Andirja bin Abidin .ุญูุธู‡ ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰

Pendidikan terakhir:

saat ini beliau sedang mengenyam pendidikan jenjang Doktor bidang Aqidah di universitas yang sama.

Menjadi pengajar berbahasa Indonesia di masjid Nabawi Madinah.

Guru-guru beliau:
1. Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad al badr
2. Syaikh Soleh Al-Suhaimi
3. Syaikh Abdurrazzaq bin abdul muhsin al abbad al badr- hafidhahumullahu jamii’an
Dan masyaikh lainnya
ูˆุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ุฃุนู„ู… ุจุงู„ุตูˆุงุจ
ุจุงุฑูƒ ุงู„ู„ู‡ ููŠูƒู…

Kajian Ustadz Firanda di Purworejo

Saudariku, Hijab Syarโ€™i Itulah Pelindungmu


niqob1

Saudariku, terkadang aku merenung, mengapa akhir-akhir ini banyak sekali kasus yang menjadikan wanita sebagai korbannya, entah itu perkosaan, pelecehan seksual, perzinaan, dan lain sebagainya yangโ€ฆ ah, miris! Sangat-sangat melecehkan dan merendahkan kehormatan wanita. Apakah memang laki-laki zaman sekarang sudah sedemikian bejat dan kurang ajar sehingga menghinakan wanita? Apakah mereka hanya berpikiran bahwa wanita adalah tempat pelampiasan nafsu mereka semata? Apakah mereka mengira wanita itu bagaikan bunga di tepi jalan yang bisa dipetik setiap saat kemudian dicampakkan begitu saja? Atau mereka pikir wanita ibarat rokok yang setelah sarinya habis mereka hisap lantas puntungnya mereka buang dan diinjak-injak dengan kaki mereka? Huh, biadab sekali laki-laki itu!

Tunggu dulu, jangan gegabah menuduh mereka wahai Saudariku.. Pernahkah engkau berpikir dan merenung dalam-dalam mengapa pria-pria itu berbuat demikian? Apakah hal itu murni kesalahan mereka atau jangan-jangan ada faktor lainnya yang mendorong mereka melakukan pelecehan terhadap kita? Renungilah sejenakโ€ฆ

Nah, sudahkah kau temukan jawabannya? Jika belum, baiklah mari kita cari jawabannya. Aku yakin sebagian besar wanita menyukai bunga-bunga mekar yang cantik, mewangi, dan beraneka warna. Lihatlah bebungaan yang indah itu, dia menarik perhatian kumbang untuk menghisap madunya, bahkan menarik perhatian manusia untuk memetiknya. Ketika bunga itu mekar maka tampaklah kecantikannya oleh sang kumbang. Sang kumbang pun tertarik untuk mendekatinya dan merampas madu bunga, lantas setelah puas, sang kumbang akan meninggalkan bunga itu begitu saja. Dan bunga itupun akhirnya layu dengan cepatโ€ฆ Habis manis, sepah dibuang. Lain halnya dengan bunga cantik yang terlindungi dari pandangan kumbang. Bunga itu tidak akan terjamah oleh kumbang-kumbang yang tidak bertanggung jawab.

Ya, wanita ibarat bunga yang cantik itu. Jika seorang wanita menampakkan kecantikan wajah dan kemolekan tubuhnya, sungguh, kebanyakan dari para lelaki akan terpesona karenanya. Hawa nafsunya akan menyuruhnya untuk menikmati sang wanita cantik itu, entah itu dengan memandangi wajah dan tubuh sang wanita terus-menerus, entah dengan menyentuhnya, atauโ€ฆ entah dengan tindakan bejat lainnya. Hanya lelaki hidung belang dan kurang imannya yang akan memuaskan hawa nafsunya dengan hal yang haram tersebut. Duhai Saudariku, apakah engkau mau menjadi korban para lelaki itu? Tentunya sebagai wanita yang berpikiran sehat, jelas kita tidak akan sudi, benar kan?

Lalu mengapa engkau pamerkan bagian tubuhmu? Keuntungan apakah yang engkau dapatkan dari membuka auratmu? Kebebasan? Bahagia karena dipuji orang sebagai wanita seksi? Biar laris jodoh? Gampang dapat pekerjaan? Dapat tawaran jadi model atau artis? Atau seribu satu kenikmatan hidup lainnya? Jika engkau berpikir bahwa engkau akan mendapatkan keuntungan yang besar dari membuka auratmu maka engkau telah salah besar. Kesenangan hidup yang kau peroleh itu hanyalah kesenangan semu. Sungguh, tidaklah akan engkau dapati dari membuka auratmu kecuali kerugian yang besar. Dengan membuka aurat maka turunlah harga diri dan kehormatanmu sebagai muslimah. Hilanglah kemuliaan dan rasa malumu seiring dengan tersingkapnya auratmu. Dan engkau pun rentan menjadi korban pelampiasan nafsu para pria hidung belang dan mata keranjang.. Lalu ke manakah perginya rasa aman ituโ€ฆ?

Hijab, perintah Allah untuk wanita muslimah

Read the rest of this entry

Mengapa Dia Menutup Wajah dengan Cadar?


cadar

Kita akan bisa memaklumi prilaku orang lain yang berbeda dengan prilaku kita jika kita mengetahui sebab yang mendorong orang tersebut untuk melakukannya sebagaimana pepatah Arab mengatakan, โ€œIdza โ€˜urifa al sabab bathola al โ€˜ujabโ€ yang artinya jika sebab timbulnya hal yang aneh itu diketahui maka keheranan akan hilang.

Di antara prilaku yang mengherankan sebagian orang adalah adanya wanita yang mau bercadar. Berikut ini akan kami sebutkan alasan pokok yang melatarbelakangi sebagian wanita rela menutup wajahnya dengan cadar. Moga setelah kita tahu maka kita lebih bisa memaklumi adanya orang yang melakukannya atau bahkan membela dan mengamalkannya.

Pertama

Semua ulama baik yang mewajibkan wanita untuk menutup wajahnya atau pun sekedar menganjurkan bersepakat bahwa istri-istri Nabi shallallahun โ€˜alaihi wa sallam berkewajiban untuk menutup wajah mereka dari laki-laki yang bukan mahram mereka.

ู‚ูŽุงู„ูŽ ุนููŠูŽุงุถ : ููŽุฑู’ุถ ุงู„ู’ุญูุฌูŽุงุจ ู…ูู…ู‘ูŽุง ุงูุฎู’ุชูŽุตูŽุตู’ู†ูŽ ุจูู‡ู ููŽู‡ููˆูŽ ููุฑูุถูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูู†ู‘ูŽ ุจูู„ูŽุง ุฎูู„ูŽุงู ูููŠ ุงู„ู’ูˆูŽุฌู’ู‡ ูˆูŽุงู„ู’ูƒูŽูู‘ูŽูŠู’ู†ู ุŒ ููŽู„ูŽุง ูŠูŽุฌููˆุฒ ู„ูŽู‡ูู†ู‘ูŽ ูƒูŽุดู’ู ุฐูŽู„ููƒูŽ ูููŠ ุดูŽู‡ูŽุงุฏูŽุฉ ูˆูŽู„ูŽุง ุบูŽูŠู’ุฑู‡ูŽุง ูˆูŽู„ูŽุง ุฅูุธู’ู‡ูŽุงุฑ ุดูุฎููˆุตู‡ู†ู‘ูŽ ูˆูŽุฅูู†ู’ ูƒูู†ู‘ูŽ ู…ูุณู’ุชูŽุชูุฑูŽุงุช ุฅูู„ู‘ูŽุง ู…ูŽุง ุฏูŽุนูŽุชู’ ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ู ุถูŽุฑููˆุฑูŽุฉ ู…ูู†ู’ ุจูุฑูŽุงุฒ .

Al Qadhi โ€˜Iyadh mengatakan, โ€œHijab dalam pengertian menutupi wajah dan dua telapak tangan adalah kewajiban yang dikhususkan untuk para istri Nabi tanpa ada perbedaan pendapat di antara para ulama tentang hal ini. Mereka tidak diperbolehkan untuk membuka wajah dan telapak tangan saat memberikan persaksian atau yang lainnya. Mereka tidak boleh menampakkan sosok tubuh mereka meski mereka terlindung dengan sesuatu sehingga tidak ada orang yang turut melihat kecuali dalam kondisi terpaksa semisal buang air besar di luar bangunanโ€ (Fathul Bari 13/332, Maktabah Syamilah).

ูŠูŽุง ุฃูŽูŠู‘ูู‡ูŽุง ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ู‚ูู„ู’ ู„ูุฃูŽุฒู’ูˆูŽุงุฌููƒูŽ ูˆูŽุจูŽู†ูŽุงุชููƒูŽ ูˆูŽู†ูุณูŽุงุกู ุงู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ููŠู†ูŽ ูŠูุฏู’ู†ููŠู†ูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูู†ู‘ูŽ ู…ูู†ู’ ุฌูŽู„ูŽุงุจููŠุจูู‡ูู†ู‘ูŽ ุฐูŽู„ููƒูŽ ุฃูŽุฏู’ู†ูŽู‰ ุฃูŽู†ู’ ูŠูุนู’ุฑูŽูู’ู†ูŽ ููŽู„ูŽุง ูŠูุคู’ุฐูŽูŠู’ู†ูŽ ูˆูŽูƒูŽุงู†ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุบูŽูููˆุฑู‹ุง ุฑูŽุญููŠู…ู‹ุง

โ€œHai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: โ€œHendaklah mereka mengulurkan jilbabnyake seluruh tubuh merekaโ€. yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayangโ€ (QS al Ahzab:59).

Ayat ini menunjukkan bahwa jilbab yang dikenakan oleh wanita yang beriman itu sama dengan jilbab yang dikenakan oleh para istri Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam karena perintah yang ada itu sama dan ditujukan kepada istri Nabi dan para wanita yang beriman serta menggunakan kata perintah yang sama. Sedangkan berdasarkan keterangan di atas para ulama sepakat bahwa jilbab untuk para istri Nabi itu menutupi wajah dan dua telapak tangan. Jika demikian maka jilbab bagi wanita yang beriman itu berupa menutupi wajah.

Kedua

Allah berfirman,

ูˆูŽุฅูุฐูŽุง ุณูŽุฃูŽู„ู’ุชูู…ููˆู‡ูู†ู‘ูŽ ู…ูŽุชูŽุงุนู‹ุง ููŽุงุณู’ุฃูŽู„ููˆู‡ูู†ู‘ูŽ ู…ูู†ู’ ูˆูŽุฑูŽุงุกู ุญูุฌูŽุงุจู ุฐูŽู„ููƒูู…ู’ ุฃูŽุทู’ู‡ูŽุฑู ู„ูู‚ูู„ููˆุจููƒูู…ู’ ูˆูŽู‚ูู„ููˆุจูู‡ูู†ู‘ูŽ

โ€œApabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri- isteri Nabi), Maka mintalah dari belakang tabir. cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati merekaโ€ (QS al Ahzab:53).

Ayat ini dengan sepakat seluruh ulama menunjukkan adanya kewajiban bagi wanita untuk menutupi wajah. Akan tetapi para ulama yang tidak mewajibkan bercadar mengatakan bahwa kandungan ayat di atas hanya berlaku untuk para istri Nabi. Pemahaman ini tidak tepat bahkan yang benar ayat di atas berlaku untuk semua wanita dengan beberapa alasan sebagai berikut.
(a) Kandungan ayat itu disimpulkan dari redaksi yang bersifat umum bukan dari sebab yang bersifat khusus.

(b) Para istri Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam adalah wanita yang hatinya paling suci dan memiliki kedudukan yang paling agung dalam hati para laki-laki yang beriman. Bahkan mereka dilarang untuk menikah setelah Nabi wafat. Meski demikian mereka diperintahkan untuk berjilbab semacam itu dalam rangka menyucikan hati mereka. Wanita selain mereka tentu lebih layak untuk mewujudkan tujuan tersebut.

(c) Dalam ayat di atas Allah menegaskan bahwa hikmah disyariatkannya jilbab semacam itu untuk para istri Nabi adalah โ€˜yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati merekaโ€™. Kalimat ini mengandung motif hukum yang tidak hanya dijumpai dalam satu kasus semata. Tujuan tersebut wajib diwujudkan oleh semua orang di semua zaman dan semua tempat. Jika kita katakan bahwa jilbab semacam itu hanya khusus untuk istri Nabi maka hal ini artinya bahwa para wanita beriman tidak mebutuhkan โ€˜kesucian hatiโ€™ yang dibutuhkan oleh para istri Nabi. Dengan kata lain, mereka lebih mulia dibandingkan para istri Nabi?!

(d) Dalam ayat selanjutnya, Allah berfirman,

ู„ูŽุง ุฌูู†ูŽุงุญูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูู†ู‘ูŽ ูููŠ ุขูŽุจูŽุงุฆูู‡ูู†ู‘ูŽ ูˆูŽู„ูŽุง ุฃูŽุจู’ู†ูŽุงุฆูู‡ูู†ู‘ูŽ ูˆูŽู„ูŽุง ุฅูุฎู’ูˆูŽุงู†ูู‡ูู†ู‘ูŽ ูˆูŽู„ูŽุง ุฃูŽุจู’ู†ูŽุงุกู ุฅูุฎู’ูˆูŽุงู†ูู‡ูู†ู‘ูŽ ูˆูŽู„ูŽุง ุฃูŽุจู’ู†ูŽุงุกู ุฃูŽุฎูŽูˆูŽุงุชูู‡ูู†ู‘ูŽ ูˆูŽู„ูŽุง ู†ูุณูŽุงุฆูู‡ูู†ู‘ูŽ

โ€œTidak ada dosa atas mereka (untuk berjumpa tanpa tabir) dengan bapak-bapak mereka, anak-anak laki-laki mereka, saudara laki-laki mereka, anak laki-laki dari saudara laki-laki mereka, anak laki-laki dari saudara mereka yang perempuan yang berimanโ€ (QS al Ahzab:55).

Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir berkata,

ู„ู…ุง ุฃู…ุฑ ุชุนุงู„ู‰ ุงู„ู†ุณุงุก ุจุงู„ุญุฌุงุจ ู…ู† ุงู„ุฃุฌุงู†ุจุŒ ุจูŠู‘ูŽู† ุฃู† ู‡ุคู„ุงุก ุงู„ุฃู‚ุงุฑุจ ู„ุง ูŠุฌุจ ุงู„ุงุญุชุฌุงุจ ู…ู†ู‡ู…ุŒ

โ€œSetelah Allah perintahkan para wanita untuk berhijab (baca:berjilbab) ketika berjumpa laki-laki yang bukan mahram maka Allah tidak ada kewajiban untuk berhijab di hadapan karib kerabat yang telah disebutkanโ€.
Ketentuan ini bersifat umum. Jika demikian bagaimana mungkin kita katakan bahwa ayat sebelumnya hanya berlaku untuk para istri Nabi.

Ketiga

Dalam hadits,

ุนูŽู†ู ุงุจู’ู†ู ุนูู…ูŽุฑูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู -ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…- ยซ ู…ูŽู†ู’ ุฌูŽุฑู‘ูŽ ุซูŽูˆู’ุจูŽู‡ู ุฎููŠูŽู„ุงูŽุกูŽ ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽู†ู’ุธูุฑู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ู ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุงู„ู’ู‚ููŠูŽุงู…ูŽุฉู ยป.ููŽู‚ูŽุงู„ูŽุชู’ ุฃูู…ู‘ู ุณูŽู„ูŽู…ูŽุฉูŽ ููŽูƒูŽูŠู’ููŽ ูŠูŽุตู’ู†ูŽุนู’ู†ูŽ ุงู„ู†ู‘ูุณูŽุงุกู ุจูุฐููŠููˆู„ูู‡ูู†ู‘ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ยซ ูŠูุฑู’ุฎููŠู†ูŽ ุดูุจู’ุฑู‹ุง ยป. ููŽู‚ูŽุงู„ูŽุชู’ ุฅูุฐู‹ุง ุชูŽู†ู’ูƒูŽุดูููŽ ุฃูŽู‚ู’ุฏูŽุงู…ูู‡ูู†ู‘ูŽ. ู‚ูŽุงู„ูŽ ยซ ููŽูŠูุฑู’ุฎููŠู†ูŽู‡ู ุฐูุฑูŽุงุนู‹ุง ู„ุงูŽ ูŠูŽุฒูุฏู’ู†ูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ยป.

Dari Ibnu Umar, Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda, โ€œSiapa yang menyeret bagian bawah pakaiannya karena sombong maka Allah tidak akan memandangnya pada hari Kiamat nantiโ€. Ummu Salamah berkata, โ€œApa yang harus dilakukan oleh para wanita dengan ujung kain mereka?โ€ Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda, โ€œHendaknya mereka memanjangkannya seukuran satu jengkalโ€, Ummu Salamah kembali berkata, โ€œJika demikian, telapak kaki mereka masih tersingkapโ€. Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda, โ€œHendaknya mereka panjangkan seukur satu hasta dan tidak boleh lebih dari ituโ€ (HR Tirmidzi no 1731 dan dinilai shahih oleh al Albani).

Hadits shahih ini menjadi dalil bahwa sudah sangat diketahui di masa Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bahwa telapak kaki wanita adalah aurat yang wajib ditutupi sehingga tidak ada laki-laki bukan mahram yang melihatnya.
Jika telapak kaki wanita adalah aurat yang wajib ditutupi maka wajah tentu lebih layak untuk ditutupi.
Setelah penjelasan di atas, apakah layak bagi syariat untuk memerintahkan menutupi telapak kaki yang bukan sumber pokok godaan wanita kemudian membolehkan wanita untuk membuka wajahnya padahal wajah adalah pusat kecantikan dan sumber godaan wanita. Sungguh ini adalah kontradiksi yang tidak mungkin ada dalam syariat Allah.

Keempat

Dalam hadits yang lain,

ุนูŽู†ู’ ุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุจู’ู†ู ู…ูŽุณู’ุนููˆุฏู โ€“ ุฑุถู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ โ€“ ู‚ูŽุงู„ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจูู‰ู‘ู โ€“ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… โ€“ ยซ ู„ุงูŽ ุชูุจูŽุงุดูุฑู ุงู„ู’ู…ูŽุฑู’ุฃูŽุฉู ุงู„ู’ู…ูŽุฑู’ุฃูŽุฉูŽ ููŽุชูŽู†ู’ุนูŽุชูŽู‡ูŽุง ู„ูุฒูŽูˆู’ุฌูู‡ูŽุง ุŒ ูƒูŽุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ูŠูŽู†ู’ุธูุฑู ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ูŽุง ยป

Dari Abdullah bin Masโ€™ud, Nabi bersabda, โ€œSeorang wanita tidaklah diperbolehkan untuk memandangan aurat wanita yang lain lalu dia menggambarkannya kepada suaminya seakan-akan suami memandang wanita tersebutโ€ (HR Bukhari no 4942).
Hadits di atas adalah dalil bahwa para wanita di masa Nabi menutupi wajah mereka. Jika tidak, tentu para lelaki tidak perlu diberi gambaran tentang wanita yang bukan mahramnya supaya โ€˜seakan-akan memandangnyaโ€™ karena mereka bisa melihat secara langsung.

Kelima

Dalam banyak hadits, Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam memerintahkan laki-laki yang hendak meminang seorang wanita agar melihat wanita yang hendak dia inginkan.

ุนูŽู†ู ุงู„ู’ู…ูุบููŠุฑูŽุฉู ุจู’ู†ู ุดูุนู’ุจูŽุฉูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฃูŽุชูŽูŠู’ุชู ุงู„ู†ู‘ูŽุจูู‰ู‘ูŽ -ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…- ููŽุฐูŽูƒูŽุฑู’ุชู ู„ูŽู‡ู ุงู…ู’ุฑูŽุฃูŽุฉู‹ ุฃูŽุฎู’ุทูุจูู‡ูŽุง ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ยซ ุงุฐู’ู‡ูŽุจู’ ููŽุงู†ู’ุธูุฑู’ ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ูŽุง ููŽุฅูู†ู‘ูŽู‡ู ุฃูŽุฌู’ุฏูŽุฑู ุฃูŽู†ู’ ูŠูุคู’ุฏูŽู…ูŽ ุจูŽูŠู’ู†ูŽูƒูู…ูŽุง ยป. ููŽุฃูŽุชูŽูŠู’ุชู ุงู…ู’ุฑูŽุฃูŽุฉู‹ ู…ูู†ูŽ ุงู„ุฃูŽู†ู’ุตูŽุงุฑู ููŽุฎูŽุทูŽุจู’ุชูู‡ูŽุง ุฅูู„ูŽู‰ ุฃูŽุจูŽูˆูŽูŠู’ู‡ูŽุง ูˆูŽุฃูŽุฎู’ุจูŽุฑู’ุชูู‡ูู…ูŽุง ุจูู‚ูŽูˆู’ู„ู ุงู„ู†ู‘ูŽุจูู‰ู‘ู -ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…-. ููŽูƒูŽุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ูู…ูŽุง ูƒูŽุฑูู‡ูŽุง ุฐูŽู„ููƒูŽ. ู‚ูŽุงู„ูŽ ููŽุณูŽู…ูุนูŽุชู’ ุฐูŽู„ููƒูŽ ุงู„ู’ู…ูŽุฑู’ุฃูŽุฉู ูˆูŽู‡ูู‰ูŽ ููู‰ ุฎูุฏู’ุฑูู‡ูŽุง ููŽู‚ูŽุงู„ูŽุชู’ ุฅูู†ู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู -ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…- ุฃูŽู…ูŽุฑูŽูƒูŽ ุฃูŽู†ู’ ุชูŽู†ู’ุธูุฑูŽ ููŽุงู†ู’ุธูุฑู’. ูˆูŽุฅูู„ุงู‘ูŽ ููŽุฅูู†ู‘ูู‰ ุฃูŽู†ู’ุดูุฏููƒูŽ ูƒูŽุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ูŽุง ุฃูŽุนู’ุธูŽู…ูŽุชู’ ุฐูŽู„ููƒูŽ.ู‚ูŽุงู„ูŽ ููŽู†ูŽุธูŽุฑู’ุชู ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ูŽุง ููŽุชูŽุฒูŽูˆู‘ูŽุฌู’ุชูู‡ูŽุง.

Dari al Mughirah bin Syuโ€™bah, โ€œAku menemui Nabi dan bercerita tentang wanita yang hendak aku lamarโ€. Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda, โ€œPergilah dan lihatlah wanita tersebut karena hal itu akan lebih melanggengkan rasa cinta di antara kalian berduaโ€. Aku lantas mendatangi rumah seorang wanita Anshar lalu kulamar wanita tersebut pada kedua orang tuanya lantas kuceritakan kepada kedua sabda Nbai di atas. Nampaknya kedua orang tuanya tidak menyukai hal tersebut. Ternyata si wanita yang berada di dalam kamar mendengar pembicaraan kami, dia lantas berkata, โ€œJika Rasulullah yang memerintahkanmu untuk melihat diriku maka silahkan lihat. Namun jika bukan maka aku memintamu dengan nama Allah untuk tidak melakukannyaโ€. Seakan wanita tersebut menilai bahwa hal ini adalah satu masalah besar. Akhirnya kulihat wanita tersebut lalu aku menikahinya. (HR Ibnu Majah no 1866 dan dinilai shahih oleh al Albani).

Hadits di atas menunjukkan bahwa para wanita di masa Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam itu bercadar karenanya maka seorang laki-laki tidak bisa melihat seorang wanita kecuali jika hendak melamarnya. Andai para wanita membuka wajah mereka, seorang laki-laki tidak perlu meminta izin kepada orang tua si wanita jika ingin melihat wanita yang ingin dinikahi.

Demikian pula, andai para wanita tidak menutupi wajah mereka tentu Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam tidak perlu memerintahkan laki-laki yang hendak melamar seorang wanita untuk melihat wanita yang akan dia nikahi.

Adanya pengecualian berupa bolehnya memandang wanita yang hendak dinikahi menunjukkan bahwa pada asalnya para wanita itu menutupi wajah mereka. Jika bukan demikian maka pengecualian dalam hal ini adalah suatu yang sia-sia belaka.

Sumber : http://ustadzaris.com