Tag: Muamalah

Info Kajian untuk Umum ๐Ÿ‚ *PURWOREJO* Bersama: ๐ŸŽ™Al Ustadz Firanda Andirja, MA (Mahasiswa S3 bidang Aqidah univ.Islam Madinah,Pengajar Tetap Di Masjid Nabawi)


๐Ÿƒ Info Kajian untuk Umum
๐Ÿ‚ *PURWOREJO*
Majelis Ilmu…Taman Taman Surga…
ุงู ู†ู’ ุดูŽุข ุกูŽ ุงู„ู„ู‘ู‡ู ุชุนุงู„ู‰

Bersama:
๐ŸŽ™Al Ustadz Firanda Andirja, MA (Mahasiswa S3 bidang Aqidah univ.Islam Madinah,Pengajar Tetap Di Masjid Nabawi)

๐Ÿ“– MATERI:
MERAIH KHUSNUL KHATIMAH

๐Ÿ—“Sabtu,25 Syawal 1437/
30 Juli 2016

๐Ÿ•ฐbakda maghrib sd jam 21.00

๐Ÿ•Œ Masjid Sebomenggalan Kota Purworejo
_________________๐ŸŒด๐ŸŒด๐ŸŒด๐ŸŒด
KAJIAN AKBAR
๐Ÿ“—NASEHAT BUAT SI KAYA DAN SI MISKIN

๐Ÿ“… WAKTU
Hari ahad,26 Syawal 1437 H / 31 Juli 2016
Jam 08.30 – dhuhur

๐ŸšฉTEMPAT
Masjid Jami As Sakinah Prayan Loano purworejo

๐ŸŽ™Sambutan: AKP Markotip,Kapolsek Loano (Mewakili Kapolres Purworejo)

๐Ÿ“ž CP / Info
085729912875

Present by:
๐Ÿš“Komunitas Masyarakat Cinta Polri KOMASCIPOL PURWOREJO
๐Ÿ€Yayasan Lajnah Istiqomah Purworejo
๐ŸŒ™Takmir Masjid Jami’ Sakinah & Sebomenggalan
๐ŸƒGrup Whasctapp Ahlus Sunnah Purworejo-Dakwah dan Bimbingan Islam
didukung oleh:

KEPOLISIAN RESORT PURWOREJO

~~~~~~~~~~~~~~~~~

ู…ูŽู†ู’ ุฏูŽู„ู‘ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฎูŽูŠู’ุฑู ููŽู„ูŽู‡ู ู…ูุซู’ู„ู ุฃูŽุฌู’ุฑู ููŽุงุนูู„ูู‡ู

“Barangsiapa menunjukkan kepada kebaikan, maka ia mendapatkan pahala sebagaimana orang yang melakukan.” [HR. Muslim, 3509]

Silakan disebarkan

————
Biodata singkat ustadz Firanda.ุญูุธู‡ ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰

Nama: Firanda Andirja bin Abidin .ุญูุธู‡ ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰

Pendidikan terakhir:

saat ini beliau sedang mengenyam pendidikan jenjang Doktor bidang Aqidah di universitas yang sama.

Menjadi pengajar berbahasa Indonesia di masjid Nabawi Madinah.

Guru-guru beliau:
1. Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad al badr
2. Syaikh Soleh Al-Suhaimi
3. Syaikh Abdurrazzaq bin abdul muhsin al abbad al badr- hafidhahumullahu jamii’an
Dan masyaikh lainnya
ูˆุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ุฃุนู„ู… ุจุงู„ุตูˆุงุจ
ุจุงุฑูƒ ุงู„ู„ู‡ ููŠูƒู…

Kajian Ustadz Firanda di Purworejo

Iklan

Keutamaan Mendoakan Orang Lain Tanpa Sepengetahuannya


Keutamaan Mendoakan Orang Lain Tanpa Sepengetahuannya

mendoakanoranglain1

Allah Taโ€™ala berfirman:
ูˆูŽุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ุฌูŽุงุคููˆุง ู…ูู† ุจูŽุนู’ุฏูู‡ูู…ู’ ูŠูŽู‚ููˆู„ููˆู†ูŽ ุฑูŽุจู‘ูŽู†ูŽุง ุงุบู’ููุฑู’ ู„ูŽู†ูŽุง ูˆูŽู„ุฅูุฎู’ูˆูŽุงู†ูู†ูŽุง ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ุณูŽุจูŽู‚ููˆู†ูŽุง ุจูุงู„ุฅููŠู…ูŽุงู†ู ูˆูŽู„ุง ุชูŽุฌู’ุนูŽู„ู’ ูููŠ ู‚ูู„ููˆุจูู†ูŽุง ุบูู„ุงู‘ู‹ ู„ู‘ูู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ุขู…ูŽู†ููˆ
โ€œDan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: โ€œYa Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman.โ€ (QS. Al-Hasyr: 10)
Allah Taโ€™ala berfirman tentang doa Ibrahim -alaihishshalatu wassalam-:
ุฑูŽุจู‘ูŽู†ูŽุง ุงุบู’ููุฑู’ ู„ููŠ ูˆูŽู„ููˆูŽุงู„ูุฏูŽูŠู‘ูŽ ูˆูŽู„ูู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ููŠู†ูŽ ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ูŠูŽู‚ููˆู…ู ุงู„ู’ุญูุณูŽุงุจู
โ€œWahai Rabb kami, beri ampunilah aku dan kedua ibu bapaku dan semua orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat).โ€ (QS. Ibrahim: 41)
Allah Taโ€™ala juga berfirman tentang Nuh -alaihishshalatu wassalam- bahwa beliau berdoa:
ุฑูŽุจู‘ู ุงุบู’ููุฑู’ ู„ููŠ ูˆูŽู„ููˆูŽุงู„ูุฏูŽูŠู‘ูŽ ูˆูŽู„ูู…ูŽู† ุฏูŽุฎูŽู„ูŽ ุจูŽูŠู’ุชููŠูŽ ู…ูุคู’ู…ูู†ู‹ุง ูˆูŽู„ูู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ููŠู†ูŽ ูˆูŽุงู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ูŽุงุชู
โ€œWahai Rabbku! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke dalam rumahku dalam keadaan beriman, dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan.โ€ (QS. Nuh: 28)
Dan juga tentang Nabi Muhammad -alaihishshalatu wassalam- dimana beliau diperintahkan dengan ayat:
ูˆูŽุงุณู’ุชูŽุบู’ููุฑู’ ู„ูุฐูŽู†ุจููƒูŽ ูˆูŽู„ูู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ููŠู†ูŽ ูˆูŽุงู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ูŽุงุชู
โ€œDan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan.โ€ (QS. Muhammad: 19)
Dari Abu Ad-Dardaโ€™ ๏ด dia berkata: Rasulullah -shallallahu โ€˜alaihi wasallam- bersabda:
ู…ูŽุง ู…ูู†ู’ ุนูŽุจู’ุฏู ู…ูุณู’ู„ูู…ู ูŠูŽุฏู’ุนููˆ ู„ูุฃูŽุฎููŠู‡ู ุจูุธูŽู‡ู’ุฑู ุงู„ู’ุบูŽูŠู’ุจู ุฅูู„ู‘ูŽุง ู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ู’ู…ูŽู„ูŽูƒู ูˆูŽู„ูŽูƒูŽ ุจูู…ูุซู’ู„ู
โ€œTidak ada seorang muslim pun yang mendoakan kebaikan bagi saudaranya (sesama muslim) tanpa sepengetahuannya, melainkan malaikat akan berkata, โ€œDan bagimu juga kebaikan yang sama.โ€ (HR. Muslim no. 4912)
Dalam riwayat lain dengan lafazh:
ุฏูŽุนู’ูˆูŽุฉู ุงู„ู’ู…ูŽุฑู’ุกู ุงู„ู’ู…ูุณู’ู„ูู…ู ู„ูุฃูŽุฎููŠู‡ู ุจูุธูŽู‡ู’ุฑู ุงู„ู’ุบูŽูŠู’ุจู ู…ูุณู’ุชูŽุฌูŽุงุจูŽุฉูŒ ุนูู†ู’ุฏูŽ ุฑูŽุฃู’ุณูู‡ู ู…ูŽู„ูŽูƒูŒ ู…ููˆูŽูƒู‘ูŽู„ูŒ ูƒูู„ู‘ูŽู…ูŽุง ุฏูŽุนูŽุง ู„ูุฃูŽุฎููŠู‡ู ุจูุฎูŽูŠู’ุฑู ู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ู’ู…ูŽู„ูŽูƒู ุงู„ู’ู…ููˆูŽูƒู‘ูŽู„ู ุจูู‡ู ุขู…ููŠู†ูŽ ูˆูŽู„ูŽูƒูŽ ุจูู…ูุซู’ู„ู
โ€œDoa seorang muslim untuk saudaranya (sesama muslim) tanpa diketahui olehnya adalah doa mustajabah. Di atas kepalanya (orang yang berdoa) ada malaikat yang telah diutus. Sehingga setiap kali dia mendoakan kebaikan untuk saudaranya, maka malaikat yang diutus tersebut akan mengucapkan, โ€œAmin dan kamu juga akan mendapatkan seperti itu.โ€

Penjelasan ringkas:
Mendoakan sesama muslim tanpa sepengatahuan orangnya termasuk dari sunnah hasanah yang telah diamalkan turun-temurun oleh para Nabi -alaihimushshalatu wassalam- dan juga orang-orang saleh yang mengikuti mereka. Mereka senang kalau kaum muslimin mendapatkan kebaikan, sehingga merekapun mendoakan saudaranya di dalam doa mereka tatkala mereka mendoakan diri mereka sendiri. Dan ini di antara sebab terbesar tersebarnya kasih sayang dan kecintaan di antara kaum muslimin, serta menunjukkan kesempuraan iman mereka. Nabi -alaihishshalatu wassalam- bersabda, โ€œTidak beriman salah seorang di antara kalian sampai dia mencintai untuk saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri.โ€ (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik)

Karenanya Allah dan Rasul-Nya memotifasi kaum muslimin untuk senantiasa mendoakan saudaranya, sampai-sampai Allah Taโ€™ala mengutus malaikat yang khusus bertugas untuk mengโ€™aminโ€™kan setiap doa seorang muslim untuk saudaranya dan sebagai balasannya malaikat itupun diperintahkan oleh Allah untuk mendoakan orang yang berdoa tersebut. Berhubung doa malaikat adalah mustajabah, maka kita bisa menyatakan bahwa mendoakan sesama muslim tanpa sepengetahuannya termasuk dari doa-doa mustajabah. Karenanya jika dia mendoakan untuk saudaranya -dan tentu saja doa yang sama akan kembali kepadanya- maka potensi dikabulkannya akan lebih besar dibandingkan dia mendoakan untuk dirinya sendiri.

Hanya saja satu batasan yang disebutkan dalam hadits -agar malaikat mengโ€™aminโ€™kan- adalah saudara kita itu tidak mengetahui kalau kita sedang mendoakan kebaikan untuknya. Jika dia mengetahui bahwa dirinya didoakan maka lahiriah hadits menunjukkan malaikat tidak mengโ€™aminโ€™kan, walaupun tetap saja orang yang berdoa mendapatkan keutamaan karena telah mendoakan saudaranya. Hanya saja kita mendoakannya tanpa sepengetahuannya lebih menjaga keikhlasan dan lebih berpengaruh dalam kasih sayang dan kecintaan.

Lanjutkan membaca “Keutamaan Mendoakan Orang Lain Tanpa Sepengetahuannya” โ†’

Ketika Marah Melanda ….


Manajemen Marah

ุจูุณู’ู…ู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุงู„ุฑูŽู‘ุญู’ู…ูŽู†ู ุงู„ุฑูŽู‘ุญููŠู…ู

Jangan kamu marah

Marah, adalah suatu keadaan yang terkadang ada dalam diri setiap orang, tak terkecuali orang-orang yang mulia, hanya saja yang membedakan adalah sebab-sebab kemarahan dan cara-cara dalam mengatasinya. Oleh karena itu perlu dipahami, kemarahan ada tiga bentuk:

Pertama: Kemarahan yang Terpuji

Marah yang terpuji adalah marah karena Allah, yaitu marah ketika terjadi pelanggaran terhadap syariโ€™at Allah taโ€™ala, bahkan Allah taโ€™ala pun marah karena hal tersebut, sebagaimana firman-Nya,

ูˆูŽูŠูุนูŽุฐูู‘ุจูŽ ุงู„ู’ู…ูู†ูŽุงููู‚ููŠู†ูŽ ูˆูŽุงู„ู’ู…ูู†ูŽุงููู‚ูŽุงุชู ูˆูŽุงู„ู’ู…ูุดู’ุฑููƒููŠู†ูŽ ูˆูŽุงู„ู’ู…ูุดู’ุฑููƒูŽุงุชู ุงู„ุธูŽู‘ุงู†ูู‘ูŠู†ูŽ ุจูุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุธูŽู†ูŽู‘ ุงู„ุณูŽู‘ูˆู’ุกู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูู…ู’ ุฏูŽุงุฆูุฑูŽุฉู ุงู„ุณูŽู‘ูˆู’ุกู ูˆูŽุบูŽุถูุจูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูู…ู’ ูˆูŽู„ูŽุนูŽู†ูŽู‡ูู…ู’ ูˆูŽุฃูŽุนูŽุฏูŽู‘ ู„ูŽู‡ูู…ู’ ุฌูŽู‡ูŽู†ูŽู‘ู…ูŽ ูˆูŽุณูŽุงุกุชู’ ู…ูŽุตููŠุฑู‹ุง

โ€œDan supaya Dia mengadzab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang mereka itu berprasangka buruk terhadap Allah. Mereka akan mendapat giliran (kebinasaan) yang amat buruk dan Allah marah kepada mereka dan mengutuk mereka serta menyediakan bagi mereka neraka Jahanam. Dan (neraka Jahanam) itulah sejelek-jeleknya tempat kembali.โ€ [Al-Fath: 6]

Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahuโ€™anha bercerita tentang kemarahan Rasulullah shallallahuโ€™alaihi wa sallam,

ู…ูŽุง ุถูŽุฑูŽุจูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู -ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…- ุดูŽูŠู’ุฆู‹ุง ู‚ูŽุทูู‘ ุจููŠูŽุฏูู‡ู ูˆูŽู„ุงูŽ ุงู…ู’ุฑูŽุฃูŽุฉู‹ ูˆูŽู„ุงูŽ ุฎูŽุงุฏูู…ู‹ุง ุฅูู„ุงูŽู‘ ุฃูŽู†ู’ ูŠูุฌูŽุงู‡ูุฏูŽ ููู‰ ุณูŽุจููŠู„ู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ูˆูŽู…ูŽุง ู†ููŠู„ูŽ ู…ูู†ู’ู‡ู ุดูŽู‰ู’ุกูŒ ู‚ูŽุทูู‘ ููŽูŠูŽู†ู’ุชูŽู‚ูู…ูŽ ู…ูู†ู’ ุตูŽุงุญูุจูู‡ู ุฅูู„ุงูŽู‘ ุฃูŽู†ู’ ูŠูู†ู’ุชูŽู‡ูŽูƒูŽ ุดูŽู‰ู’ุกูŒ ู…ูู†ู’ ู…ูŽุญูŽุงุฑูู…ู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ููŽูŠูŽู†ู’ุชูŽู‚ูู…ูŽ ู„ูู„ูŽู‘ู‡ู ุนูŽุฒูŽู‘ ูˆูŽุฌูŽู„ูŽู‘

โ€œRasulullah shallallahuโ€™alaihi wa sallam tidak pernah memukul apa pun dengan tangannya sama sekali, tidak istri dan tidak pula pembantu, kecuali ketika beliau berjihad di jalan Allah. Dan tatkala beliau disakiti, maka tidak pernah beliau membalas pelakunya sedikit pun, kecuali apabila dilanggar satu hal yang Allah haramkan, maka beliau membalas karena Allah โ€˜azza wa jalla.โ€ [HR. Muslim]

Maka seorang mukmin harus marah kepada orang-orang kafir disebabkan kekafiran mereka, demikian pula marah kepada pelaku bidโ€™ah dan maksiat sesuai kadar bidโ€™ah dan maksiatnya. Ini adalah marah yang terpuji.

Sebaliknya, jika seorang mukmin malah senang dengan pelaku syirik, atau tidak marah terhadap pelaku bidโ€™ah dan maksiat, maka itu adalah sikap yang jelek, bahkan senang dengan pelaku syirik karena kesyirikannya adalah kekafiran kepada Allah taโ€™ala.

Kedua: Kemarahan yang Tercela

Marah yang tercela adalah marah yang bukan karena Allah, yang berdasarkan pada sesuatu yang tercela, seperti marah karena kesombongan, hizbiyyah (fanatisme golongan), dan berbagai sebab yang tercela lainnya.

Ketiga: Kemarahan yang Mubah

Marah yang mubah adalah marah karena tabiat (sifat dasar manusia), seperti marah karena disakiti atau dihina, hukum asalnya mubah, namun dapat menjadi haram apabila mengantarkan kepada yang haram, seperti berbuat zalim, mencaci, mengghibah, bahkan memukul dan membunuh.

Dan sebaliknya, marah karena tabiat ini dapat menjadi kebaikan yang besar apabila dikelola secara benar, yaitu sesuai tuntunan agama yang mulia ini.

Cara Mengelola Kemarahan

Dari sahabat yang mulia Abu Hurairah radhiyallahuโ€™anhu,

ุฃูŽู†ูŽู‘ ุฑูŽุฌูู„ุงู‹ ู‚ูŽุงู„ูŽ ู„ูู„ู†ูŽู‘ุจููŠูู‘ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุฃูŽูˆู’ุตูู†ููŠ ู‚ูŽุงู„ูŽ : ู„ุงูŽ ุชูŽุบู’ุถูŽุจู’ ููŽุฑูŽุฏูŽู‘ุฏูŽ ู…ูุฑูŽุงุฑู‹ุง ู‚ูŽุงู„ูŽ : ู„ุงูŽ ุชูŽุบู’ุถูŽุจู’

โ€œBahwasannya seseorang berkata kepada Nabi shallallahuโ€™alaihi wa sallam: Berilah aku wasiat. Beliau bersabda: Jangan marah. Orang tersebut meminta wasiat sampai beberapa kali. Beliau pun bersabda: Jangan marah.โ€ [HR. Al-Bukhari]

Para ulama menjelaskan, makna โ€œJangan marahโ€ dalam hadits di atas mencakup lima makna:

Pertama: Menghilangkan amarah dengan memaafkan. Makna ini yang diisyaratkan oleh Ibnu Baththol rahimahullah, beliau berkata ketika menjelaskan hadits ini,

ู…ุฏุญ ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ุงู„ุฐูŠู† ูŠุบูุฑูˆู† ุนู†ุฏ ุงู„ุบุถุจ ูˆุฃุซู†ู‰ ุนู„ูŠู‡ู…ุŒ ูˆุฃุฎุจุฑ ุฃู† ู…ุงุนู†ุฏู‡ ุฎูŠุฑ ูˆุฃุจู‚ู‰ ู„ู‡ู… ู…ู† ู…ุชุงุน ุงู„ุญูŠุงุฉ ุงู„ุฏู†ูŠุง ูˆุฒูŠู†ุชู‡ุงุŒ ูˆุฃุซู†ู‰ ุนู„ู‰ ุงู„ูƒุงุธู…ูŠู† ุงู„ุบูŠุธ ูˆุงู„ุนุงููŠู† ุนู† ุงู„ู†ุงุณุŒ ูˆุฃุฎุจุฑ ุฃู†ู‡ ูŠุญุจู‡ู… ุจุฅุญุณุงู†ู‡ู… ูู‰ ุฐู„ูƒ

โ€œAllah telah memuji orang-orang yang memaafkan ketika marah dan menyanjung mereka, dan Dia mengabarkan bahwa apa yang ada di sisi-Nya lebih baik dan lebih kekal bagi mereka dibanding kesenangan dunia dan perhiasannya. Dan Allah telah menyanjung orang-orang yang menahan marah serta memaafkan manusia, dan Dia mengabarkan bahwa Dia mencintai mereka disebabkan perbuatan baik mereka dalam hal tersebut.โ€ [Syarhu Shahihil Bukhari, 9/296]

Memberi Maaf Saat Marah

Kedua: Jangan mudah marah atau cepat marah. Asy-Syaikh Ibnul โ€˜Utsaimin rahimahullah berkata,

ูˆุงู„ู…ุนู†ูŠ ู„ุง ุชูƒู† ุณุฑูŠุน ุงู„ุบุถุจ ูŠุณุชุซูŠุฑูƒ ูƒู„ ุดูŠุก ุจู„ ูƒู† ู…ุทู…ุฆู†ุง ู…ุชุฃู†ูŠุง ู„ุฃู† ุงู„ุบุตุจ ุฌู…ุฑุฉ ูŠู„ู‚ูŠู‡ุง ุงู„ุดูŠุทุงู† ููŠ ู‚ู„ุจ ุงู„ุฅู†ุณุงู† ุญุชู‰ ูŠุบู„ูŠ ุงู„ู‚ู„ุจ ูˆู„ู‡ุฐุง ุชู†ุชูุฎ ุงู„ุฃูˆุฏุงุฌ โ€“ ุนุฑูˆู‚ ุงู„ุฏู… โ€“ ูˆุชุญู…ุฑ ุงู„ุนูŠู† ุซู… ูŠู†ูุนู„ ุงู„ุฅู†ุณุงู† ุญุชู‰ ูŠูุนู„ ุดูŠุฆุง ูŠู†ุฏู… ุนู„ูŠู‡

โ€œMakna hadits ini adalah, janganlah engkau cepat marah, yaitu janganlah segala sesuatu dapat membuatmu marah, akan tetapi jadilah orang yang tenang serta menahan diri, sebab kemarahan adalah bara api yang dilemparkan oleh setan ke hati manusia agar agar hati menjadi panas, oleh karena itu urat-urat leher pun mengembang dan mata memerah, pada akhirnya manusia kehilangan kendali hingga ia melakukan sesuatu yang kelak ia sesali.โ€ [Syarah Riyadhis Shalihin]

Ketiga: Menjauhi sebab-sebab kemarahan. Al-Khattabi rahimahullah berkata

ู…ุนู†ู‰ ู‚ูˆู„ู‡ ู„ุง ุชุบุถุจ ุงุฌุชู†ุจ ุฃุณุจุงุจ ุงู„ุบุถุจ ูˆู„ุง ุชุชุนุฑุถ ู„ู…ุง ูŠุฌู„ุจู‡

โ€œMakna ucapan beliau โ€œJangan marahโ€ adalah, jauhilah sebab-sebab kemarahan, dan jangan mendekati sesuatu yang dapat memunculkannya.โ€ [Fathul Bari, 10/520]

Keempat: Menghilangkan sifat sombong, karena itulah sebab kemarahan terbesar. Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata,

ูˆู‚ูŠู„ ู…ุนู†ุงู‡ ู„ุง ุชุบุถุจ ู„ุฃู† ุฃุนุธู… ู…ุง ูŠู†ุดุฃ ุนู†ู‡ ุงู„ุบุถุจ ุงู„ูƒุจุฑ ู„ูƒูˆู†ู‡ ูŠู‚ุน ุนู†ุฏ ู…ุฎุงู„ูุฉ ุฃู…ุฑ ูŠุฑูŠุฏู‡ ููŠุญู…ู„ู‡ ุงู„ูƒุจุฑ ุนู„ู‰ ุงู„ุบุถุจ ูุงู„ุฐูŠ ูŠุชูˆุงุถุน ุญุชู‰ ูŠุฐู‡ุจ ุนู†ู‡ ุนุฒุฉ ุงู„ู†ูุณ ูŠุณู„ู… ู…ู† ุดุฑ ุงู„ุบุถุจ

โ€œDan dikatakan maknanya, jangan marah karena penyebab kemarahan terbesar adalah kesombongan, oleh karena kemarahan itu muncul ketika menyelisihi seseuatu yang diinginkan oleh seseorang, maka kesombongan membawanya pada kemarahan. Sehingga orang yang merendahkan diri (tidak sombong) akan hilang darinya sifat tinggi hati dan selamat dari jeleknya kemarahan.โ€ [Fathul Bari, 10/520]

Kelima: Tidak menuruti amarah atau melampiaskannya dengan cara yang salah. Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata,

ูˆู‚ูŠู„ ู…ุนู†ุงู‡ ู„ุง ุชูุนู„ ู…ุง ูŠุฃู…ุฑูƒ ุจู‡ ุงู„ุบุถุจ

โ€œDan dikatakan maknanya, janganlah engkau menuruti perintah amarahmu.โ€ [Fathul Bari, 10/520]

Ibnu Hibban rahimahullah berkata,

ุฃุฑุงุฏ ู„ุง ุชุนู…ู„ ุจุนุฏ ุงู„ุบุถุจ ุดูŠุฆุง ู…ู…ุง ู†ู‡ูŠุช ุนู†ู‡

โ€œBeliau menginginkan, janganlah engkau melakukan sesuatu yang aku larang ketika marah.โ€ [Fathul Bari, 10/520]

Demikianlah cara mengelola kemarahan yang terkandung dalam satu hadits di atas, cara yang lainnya:

Keenam: Meminta perlindungan kepada Allah taโ€™ala dari setan. Sahabat yang mulia Sulaiman bin Shurod radhiyallahuโ€™anhu berkata,

ุงุณู’ุชูŽุจูŽู‘ ุฑูŽุฌูู„ุงูŽู†ู ุนูู†ู’ุฏูŽ ุงู„ู†ูŽู‘ุจูู‰ูู‘ -ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…- ููŽุฌูŽุนูŽู„ูŽ ุฃูŽุญูŽุฏูู‡ูู…ูŽุง ุชูŽุญู’ู…ูŽุฑูู‘ ุนูŽูŠู’ู†ูŽุงู‡ู ูˆูŽุชูŽู†ู’ุชูŽููุฎู ุฃูŽูˆู’ุฏูŽุงุฌูู‡ู ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู -ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…- ุฅูู†ูู‘ู‰ ู„ุฃูŽุนู’ุฑููู ูƒูŽู„ูู…ูŽุฉู‹ ู„ูŽูˆู’ ู‚ูŽุงู„ูŽู‡ูŽุง ู„ูŽุฐูŽู‡ูŽุจูŽ ุนูŽู†ู’ู‡ู ุงู„ูŽู‘ุฐูู‰ ูŠูŽุฌูุฏู ุฃูŽุนููˆุฐู ุจูุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ู…ูู†ูŽ ุงู„ุดูŽู‘ูŠู’ุทูŽุงู†ู ุงู„ุฑูŽู‘ุฌููŠู…ูย 

โ€œAda dua orang saling mencaci di sisi Nabi shallallahuโ€™alaihi wa sallam, maka salah seorang dari mereka telah memerah kedua matanya dan mengembang urat-urat lehernya. Rasulullah shallallahuโ€™alaihi wa sallam pun bersabda: Sesungguhnya aku mengetahui satu kalimat, andaikan ia mengucapkannya maka akan hilang amarahnya, yaitu:

ุฃูŽุนููˆุฐู ุจูุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ู…ูู†ูŽ ุงู„ุดูŽู‘ูŠู’ุทูŽุงู†ู ุงู„ุฑูŽู‘ุฌููŠู…ู

โ€œ Aโ€™uudzu billaahi minasy-syaithoonir-rojiimโ€

Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk.โ€ [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

Ketujuh: Berwudhu. Dalam sebuah hadits yang didhaโ€™ifkan oleh sejumlah ulama,

ุฅูู†ูŽู‘ ุงู„ู’ุบูŽุถูŽุจูŽ ู…ูู†ูŽ ุงู„ุดูŽู‘ูŠู’ุทูŽุงู†ู ูˆูŽุฅูู†ูŽู‘ ุงู„ุดูŽู‘ูŠู’ุทูŽุงู†ูŽ ุฎูู„ูู‚ูŽ ู…ูู†ูŽ ุงู„ู†ูŽู‘ุงุฑู ูˆูŽุฅูู†ูŽู‘ู…ูŽุง ุชูุทู’ููŽุฃู ุงู„ู†ูŽู‘ุงุฑู ุจูุงู„ู’ู…ูŽุงุกู ููŽุฅูุฐูŽุง ุบูŽุถูุจูŽ ุฃูŽุญูŽุฏููƒูู…ู’ ููŽู„ู’ูŠูŽุชูŽูˆูŽุถูŽู‘ุฃู’

โ€œSesungguhnya kemarahan itu dari setan, dan sesungguhnya setan tercipta dari api, dan hanyalah api itu dapat dimatikan dengan air, maka jika seorang dari kalian marah, hendaklah ia berwudhu.โ€ [HR. Ahmad dan Abu Daud dari โ€˜Athiyah radhiyallahuโ€™anhu, didhaโ€™ifkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Adh-Dhaโ€™ifah: 582]

Walaupun hadits ini dhaโ€™if namun maknanya shahih dan terbukti bahwa kemarahan itu dari setan (sebagaimana dalam hadits Sulaiman bin Shurod di atas) dan dengan berwudhu dapat menghilangkannya. Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata,

ูˆุฃู† ูŠุณุชุนูŠุฐ ู…ู† ุงู„ุดูŠุทุงู† ูƒู…ุง ุชู‚ุฏู… ููŠ ุญุฏูŠุซ ุณู„ูŠู…ุงู† ุจู† ุตุฑุฏ ูˆุฃู† ูŠุชูˆุถุฃ ูƒู…ุง ุชู‚ุฏู…ุช ุงู„ุฅุดุงุฑุฉ ุฅู„ูŠู‡ ููŠ ุญุฏูŠุซ ุนุทูŠุฉ ูˆุงู„ู„ู‡ ุฃุนู„ู…

โ€œDan hendaklah orang yang marah memohon perlindungan dari setan sebagaimana telah berlalu dalam hadits Sulaiman bin Shurod, dan hendaklah ia berwudhu sebagaimana telah berlalu isyarat kepadanya dalam hadits โ€˜Athiyyah, wallahu aโ€™lam.โ€ [Fathul Bari, 10/521]

Kedelapan: Diam, tidak berbicara apalagi berdebat dan saling mencaci. Rasulullah shallallahuโ€™alaihi wa sallam bersabda,

ุนูŽู„ูู‘ู…ููˆุง ูˆูŽูŠูŽุณูู‘ุฑููˆุง ูˆูŽู„ุงูŽ ุชูุนูŽุณูู‘ุฑููˆุง ุŒ ูˆูŽุฅูุฐูŽุง ุบูŽุถูุจูŽ ุฃูŽุญูŽุฏููƒูู…ู’ ููŽู„ู’ูŠูŽุณู’ูƒูุช

โ€œAjarilah, mudahkanlah dan jangan mempersulit, dan apabila seorang dari kalian marah hendaklah ia diam.โ€ [HR. Ahmad dari Ibnu โ€˜Abbas radhiyallahuโ€™anhuma, Ash-Shahihah: 1375]

Kesembilan: Merubah posisi. Rasulullah shallallahuโ€™alaihi wa sallam bersabda,

ุฅูุฐูŽุง ุบูŽุถูุจูŽ ุฃูŽุญูŽุฏููƒูู…ู’ ูˆูŽู‡ููˆูŽ ู‚ูŽุงุฆูู…ูŒ ููŽู„ู’ูŠูŽุฌู’ู„ูุณู’ ููŽุฅูู†ู’ ุฐูŽู‡ูŽุจูŽ ุนูŽู†ู’ู‡ู ุงู„ู’ุบูŽุถูŽุจู ูˆูŽุฅูู„ุงูŽู‘ ููŽู„ู’ูŠูŽุถู’ุทูŽุฌูุนู’

โ€œApabila seorang dari kalian marah dan ia dalam keadaan berdiri hendaklah ia duduk, jika kemarahannya belum mereda maka hendaklah ia berbaring.โ€ [HR. Abu Daud dari Abu Dzar radhiyallahuโ€™anhu, Al-Misykaah: 5114]

Kesepuluh: Melatih diri untuk tidak marah dan menahan emosi. Menahan marah adalah akhlak yang terpuji, dan akhlak yang terpuji terkadang dimiliki seseorang sebagai sifat dasarnya, dan terkadang ia perlu berjuang dan melatih diri untuk dapat memilikinya.

Rasulullah shallallahuโ€™alaihi wa sallam bersabda,

ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ูŠูŽุณู’ุชูŽุนู’ูููู’ ูŠูุนูููŽู‘ู‡ู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูุŒ ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ูŠูŽุณู’ุชูŽุบู’ู†ู ูŠูุบู’ู†ูู‡ู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูุŒ ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ูŠูŽุตู’ุจูุฑู’ ูŠูุตูŽุจูู‘ุฑู’ู‡ู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูุŒ ูˆูŽู…ูŽุง ุฃูุนู’ุทููŠูŽ ุฃูŽุญูŽุฏูŒ ู…ูู†ู’ ุนูŽุทูŽุงุกู ุฎูŽูŠู’ุฑูŒ ูˆูŽุฃูŽูˆู’ุณูŽุนู ู…ูู†ูŽ ุงู„ุตูŽู‘ุจู’ุฑู

โ€œBarangsiapa yang berusaha menjaga kesucian dirinya maka Allah akan menjaganya, barangsiapa yang berusaha merasa cukup maka Allah akan mencukupkannya dan barangsiapa yang berusaha sabar maka Allah akan menyabarkannya, dan tidaklah seseorang dianugerahkan sebuah pemberian yang lebih baik dan lebih luas dibanding kesabaran.โ€ [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Saโ€™id Al-Khudri radhiyallahuโ€™anhu]

Orang yang Kuat

Rasulullah shallallahuโ€™alaihi wa sallam juga bersabda,

ู„ูŽูŠู’ุณูŽ ุงู„ุดูŽู‘ุฏูŠุฏู ุจุงู„ุตูู‘ุฑูŽุนูŽุฉู ุŒ ุฅู†ูŽู‘ู…ุง ุงู„ุดูŽู‘ุฏูŠุฏู ุงู„ูŽู‘ุฐูŠ ูŠูŽู…ู„ููƒู ู†ูŽูู’ุณูŽู‡ู ุนู†ุฏูŽ ุงู„ุบูŽุถูŽุจู

โ€œBukanlah orang yang kuat itu yang dapat memenangkan pertarungan, akan tetapi orang yang kuat itu adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.โ€ [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahuโ€™anhu]

Kesebelas: Mengedepankan prasangka baik kepada saudara kita yang telah membuat marah, karena sesungguhnya prasangka baik dapat melapangkan hati dan menghilangkan kemarahan terhadap orang yang menyakiti kita.

Dalam hal ini generasi Salaf adalah sebaik-baiknya teladan. Al-Mawardi rahimahullah berkata,

ูˆูŽุญููƒููŠูŽ ุนูŽู†ู’ ุจูู†ู’ุชู ุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุจู’ู†ู ู…ูุทููŠุนู ุฃูŽู†ูŽู‘ู‡ูŽุง ู‚ูŽุงู„ูŽุชู’ ู„ูุฒูŽูˆู’ุฌูู‡ูŽุง ุทูŽู„ู’ุญูŽุฉูŽ ุจู’ู†ู ุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ุฑูŽู‘ุญู’ู…ูŽู†ู ุจู’ู†ู ุนูŽูˆู’ูู ุงู„ุฒูู‘ู‡ู’ุฑููŠูŽู‘ ุŒ ูˆูŽูƒูŽุงู†ูŽ ุฃูŽุฌู’ูˆูŽุฏูŽ ู‚ูุฑูŽูŠู’ุดู ูููŠ ุฒูŽู…ูŽุงู†ูู‡ู : ู…ูŽุง ุฑูŽุฃูŽูŠู’ุช ู‚ูŽูˆู’ู…ู‹ุง ุฃูŽู„ู’ุฃูŽู…ูŽ ู…ูู†ู’ ุฅุฎู’ูˆูŽุงู†ููƒ ุŒ ู‚ูŽุงู„ูŽ ู…ูŽู‡ู’ ูˆูŽู„ูู…ูŽ ุฐูŽู„ููƒูŽ ุŸ ู‚ูŽุงู„ูŽุชู’ : ุฃูŽุฑูŽุงู‡ูู…ู’ ุฅุฐูŽุง ุฃูŽูŠู’ุณูŽุฑู’ุช ู„ูŽุฒูู…ููˆูƒ ุŒ ูˆูŽุฅูุฐูŽุง ุฃูŽุนู’ุณูŽุฑู’ุช ุชูŽุฑูŽูƒููˆูƒ . ู‚ูŽุงู„ูŽ : ู‡ูŽุฐูŽุง ูˆูŽุงูŽู„ู„ูŽู‘ู‡ู ู…ูู†ู’ ูƒูŽุฑูŽู…ูู‡ูู…ู’ ุŒ ูŠูŽุฃู’ุชููˆู†ูŽู†ูŽุง ูููŠ ุญูŽุงู„ู ุงู„ู’ู‚ููˆูŽู‘ุฉู ุจูู†ูŽุง ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูู…ู’ ุŒ ูˆูŽูŠูŽุชู’ุฑููƒููˆู†ูŽู†ูŽุง ูููŠ ุญูŽุงู„ู ุงู„ุถูŽู‘ุนู’ูู ุจูู†ูŽุง ุนูŽู†ู’ู‡ูู…ู’ . ููŽุงู†ู’ุธูุฑู’ ูƒูŽูŠู’ููŽ ุชูŽุฃูŽูˆูŽู‘ู„ูŽ ุจููƒูŽุฑู’ู…ูู‡ู ู‡ูŽุฐูŽุง ุงู„ุชูŽู‘ุฃู’ูˆููŠู„ูŽ ุญูŽุชูŽู‘ู‰ ุฌูŽุนูŽู„ูŽ ู‚ูŽุจููŠุญูŽ ููุนู’ู„ูู‡ูู…ู’ ุญูŽุณูŽู†ู‹ุง ุŒ ูˆูŽุธูŽุงู‡ูุฑูŽ ุบูŽุฏู’ุฑูู‡ูู…ู’ ูˆูŽููŽุงุกู‹ .

โ€œDan dihikayatkan dari Bintu โ€˜Abdillah bin Muthiโ€™, bahwa ia berkata kepada suaminya Thalhah bin Abdur Rahman bin Auf Az-Zuhri, seorang yang paling dermawan pada suku Qurays di masanya. Maka suatu hari istrinya berkata kepadanya: Aku tidak melihat suatu kaum yang lebih tercela dari Ikhwanmu. Beliau berkata: Kenapa bisa begitu? Istrinya berkata: Aku lihat mereka selalu bersamamu saat kamu kaya, dan mereka meninggalkanmu saat kamu miskin. Beliau berkata: Ini demi Allah termasuk kemuliaan akhlak mereka, karena mereka hanya datang kepada kami saat kami mampu memuliakan mereka, dan mereka meninggalkan kami saat kami tidak mampu menunaikan hak mereka.โ€

(Al-Mawardi rahimahullah mengomentari), โ€œLihatlah bagaimana beliau melakukan penafsiran ini karena kemuliaan sifatnya, sehingga ia memandang jeleknya perbuatan mereka sebagai kebaikan dan jelasnya pengkhianatan mereka sebagai kesetiaan.โ€ [Adabud Dunya wad Diin, hal. 180]

Keduabelas: Senantiasa mengingat keutamaan menahan marah. Allah taโ€™ala telah mengabarkan kepada kita bahwa menahan marah dan memaafkan adalah akhlak yang utama, diantara keutamaannya:

Memberi Maaf Beroleh Ampunan

Satu: Memaafkan adalah sifat orang-orang yang beriman. Allah taโ€™ala berfirman,

ูˆูŽุฅูุฐูŽุง ู…ูŽุง ุบูŽุถูุจููˆุง ู‡ูู…ู’ ูŠูŽุบู’ููุฑููˆู†ูŽ

โ€œDan apabila mereka marah maka mereka memberi maaf.โ€ [Asy-Syuro: 37]

Ibrahim rahimahullah berkata,

ูƒุงู† ุงู„ู…ุคู…ู†ูˆู† ูŠูƒุฑู‡ูˆู† ุฃู† ูŠุณุชุฐู„ูˆุงุŒ ูˆูƒุงู†ูˆุง ุฅุฐุง ู‚ุฏุฑูˆุง ุนููˆุง

โ€œKaum mukminin tidak suka menjadi hina, namun apabila mereka mampu membalas maka mereka memaafkan.โ€ [Tafsir Ibnu Katsir, 7/210]

Dua: Menahan marah dan memaafkan adalah sifat orang-orang yang bertakwa. Allah taโ€™ala berfirman,

ูˆูŽุงู„ู’ูƒูŽุงุธูู…ููŠู†ูŽ ุงู„ู’ุบูŽูŠู’ุธูŽ ูˆูŽุงู„ู’ุนูŽุงูููŠู†ูŽ ุนูŽู†ู ุงู„ู†ูŽู‘ุงุณู ูˆูŽุงู„ู„ู‡ู ูŠูุญูุจูู‘ ุงู„ู’ู…ูุญู’ุณูู†ููŠู†ูŽ

โ€œDan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.โ€ [Ali Imron: 134]

Tiga: Sebab meraih ampunan. Allah taโ€™ala berfirman,

ูˆูŽู„ู’ูŠูŽุนู’ูููˆุง ูˆูŽู„ู’ูŠูŽุตู’ููŽุญููˆุง ุฃูŽู„ุง ุชูุญูุจูู‘ูˆู†ูŽ ุฃูŽู† ูŠูŽุบู’ููุฑูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ู„ูŽูƒูู…ู’ ูˆูŽุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุบูŽูููˆุฑูŒ ุฑูŽู‘ุญููŠู…ูŒย ย 

โ€œDan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.โ€ [An-Nur: 22]

Empat: Sebab meraih surga. Dari sahabat yang mulia Abu Ad-Darda radhiyallahuโ€™anhu, ia berkata, aku pernah berkata,

ูŠูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูุŒ ุฏูู„ูŽู‘ู†ููŠ ุนูŽู„ูŽู‰ ุนูŽู…ูŽู„ู ูŠูุฏู’ุฎูู„ูู†ููŠ ุงู„ู’ุฌูŽู†ูŽู‘ุฉูŽุŒ ู‚ูŽุงู„ูŽ:โ€ู„ุง ุชูŽุบู’ุถูŽุจู’ุŒ ูˆูŽู„ูŽูƒูŽ ุงู„ู’ุฌูŽู†ูŽู‘ุฉู

โ€œWahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku satu amalan yang dapat memasukkan aku ke surga. Beliau bersabda: Jangan marah, dan bagimu surga.โ€ [HR. Ath-Thabrani, Shahihut Targhib: 2749]

Lima: Memilih bidadari sesuai selera. Rasulullah shallallahuโ€™alaihi wa sallam bersabda,

ู…ูŽู†ู’ ูƒูŽุธูŽู…ูŽ ุบูŽูŠู’ุธู‹ุง โ€“ ูˆูŽู‡ููˆูŽ ู‚ูŽุงุฏูุฑูŒ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฃูŽู†ู’ ูŠูู†ู’ููุฐูŽู‡ู โ€“ ุฏูŽุนูŽุงู‡ู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุนูŽุฒูŽู‘ ูˆูŽุฌูŽู„ูŽู‘ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฑูุกููˆุณู ุงู„ู’ุฎูŽู„ุงูŽุฆูู‚ู ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุงู„ู’ู‚ููŠูŽุงู…ูŽุฉู ุญูŽุชูŽู‘ู‰ ูŠูุฎูŽูŠูู‘ุฑูŽู‡ู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ุญููˆุฑู ู…ูŽุง ุดูŽุงุกูŽ

โ€œBarangsiapa yang menahan marah, padahal ia mampu untuk melampiaskannya, maka Allah akan menyerunya di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat, hingga ia dipersilahkan oleh Allah taโ€™ala untuk memilih bidadari mana saja yang ia kehendaki.โ€ [HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi dari Muโ€™adz bin Anas radhiyallahuโ€™anhu, Shahihut Targhib: 2753]

Ingat Bidadari Saat Marah Lanjutkan membaca “Ketika Marah Melanda ….” โ†’

Bahaya Asal-Asalan Sharing Dan Menyebarkan Berita Di Internet


adab menyebarkan berita

 

Beberapa media tidak bertanggung jawab, mereka asal saja memberitakan sesuatu tanpa tahu kebenarannya. Bagi media yang penting โ€œhebohโ€ dulu, โ€œrating viewโ€ mereka yang penting naik dan melonjak dahulu. Masalah klarifikasi, masalah belakangan yang penting โ€œheboh dan meraih keuntunganโ€.

Masih teringat beberapa berita yang ternyata faktanya sangat terbalik dengan kenyataan, akibatnya beberapa pihak dirugikan bahkan nama baiknya tercemar dan yang lebih parahnya beberapa dari mereka yang difitnah bisa di โ€œbullyโ€ dan diolok-olok oleh seantero penduduk dunia maya di internet.

Kita ambil contoh misalnya yang baru saja hangat:

-program pekan kondom nasional, dimana media memberitakan seolah-olah itu adalah program resmi dari kemenkes padahal bukan

-kemudian pernyataan kemenkes bahwa โ€œsemua obat mengandung babi dan tidak ada setifikat halalโ€, padahal kemenkes tidak pernah membuat pernyataan tersebut.

Akibatnya kemenkes di โ€œbullyโ€™, dicerca dan diolok-olok di seantero dunia maya. Dan tidak banyak ini dilakukan oleh saudara kita kaum muslimin.

Dan banya itu saja, masih banyak contoh kasus yang lainnya.

 

Larangan asal-asalan menyebarkan berita sebelum mengeceknya

Islam mengajarkan kita agar jangan setiap ada berita atau isu langsung diekspos ke masyarakat secara luas. Hendaklah kita jangan mudah termakan berita yang kurang jelas atau isu murahan kemudian ikut-kutan menyabarkannya padahal ilmu kita terbatas mengenai hal tersebut. Allah Taโ€™ala berfirman,

ูˆูŽุฅูุฐูŽุง ุฌูŽุงุกู‡ูู…ู’ ุฃูŽู…ู’ุฑูŒ ู…ู‘ูู†ูŽ ุงู„ุฃูŽู…ู’ู†ู ุฃูŽูˆู ุงู„ู’ุฎูŽูˆู’ูู ุฃูŽุฐูŽุงุนููˆุงู’ ุจูู‡ู ูˆูŽู„ูŽูˆู’ ุฑูŽุฏู‘ููˆู‡ู ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ุฑู‘ูŽุณููˆู„ู ูˆูŽุฅูู„ูŽู‰ ุฃููˆู’ู„ููŠ ุงู„ุฃูŽู…ู’ุฑู ู…ูู†ู’ู‡ูู…ู’ ู„ูŽุนูŽู„ูู…ูŽู‡ู ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ูŠูŽุณู’ุชูŽู†ุจูุทููˆู†ูŽู‡ู ู…ูู†ู’ู‡ูู…ู’ ูˆูŽู„ูŽูˆู’ู„ุงูŽ ููŽุถู’ู„ู ุงู„ู„ู‘ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู’ ูˆูŽุฑูŽุญู’ู…ูŽุชูู‡ู ู„ุงูŽุชู‘ูŽุจูŽุนู’ุชูู…ู ุงู„ุดู‘ูŽูŠู’ุทูŽุงู†ูŽ ุฅูู„ุงู‘ูŽ ู‚ูŽู„ููŠู„ุงู‹

โ€œDan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri) . Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu).โ€ (An-Nisa: 83)

 

Syaikh Abdurrahman bin Nasir As-Saโ€™diy rahimahullah menfsirkan ayat ini,

ู‡ุฐุง ุชุฃุฏูŠุจ ู…ู† ุงู„ู„ู‡ ู„ุนุจุงุฏู‡ ุนู† ูุนู„ู‡ู… ู‡ุฐุง ุบูŠุฑ ุงู„ู„ุงุฆู‚. ูˆุฃู†ู‡ ูŠู†ุจุบูŠ ู„ู‡ู… ุฅุฐุง ุฌุงุกู‡ู… ุฃู…ุฑ ู…ู† ุงู„ุฃู…ูˆุฑ ุงู„ู…ู‡ู…ุฉ ูˆุงู„ู…ุตุงู„ุญ ุงู„ุนุงู…ุฉ ู…ุง ูŠุชุนู„ู‚ ุจุงู„ุฃู…ู† ูˆุณุฑูˆุฑ ุงู„ู…ุคู…ู†ูŠู†ุŒ ุฃูˆ ุจุงู„ุฎูˆู ุงู„ุฐูŠ ููŠู‡ ู…ุตูŠุจุฉ ุนู„ูŠู‡ู… ุฃู† ูŠุชุซุจุชูˆุง ูˆู„ุง ูŠุณุชุนุฌู„ูˆุง ุจุฅุดุงุนุฉ ุฐู„ูƒ ุงู„ุฎุจุฑุŒ ุจู„ ูŠุฑุฏูˆู†ู‡ ุฅู„ู‰ ุงู„ุฑุณูˆู„ ูˆุฅู„ู‰ ุฃูˆู„ูŠ ุงู„ุฃู…ุฑ ู…ู†ู‡ู…ุŒ ุฃู‡ู„ู ุงู„ุฑุฃูŠ ูˆุงู„ุนู„ู… ูˆุงู„ู†ุตุญ ูˆุงู„ุนู‚ู„ ูˆุงู„ุฑุฒุงู†ุฉุŒ ุงู„ุฐูŠู† ูŠุนุฑููˆู† ุงู„ุฃู…ูˆุฑ ูˆูŠุนุฑููˆู† ุงู„ู…ุตุงู„ุญ ูˆุถุฏู‡ุง. ูุฅู† ุฑุฃูˆุง ููŠ ุฅุฐุงุนุชู‡ ู…ุตู„ุญุฉ ูˆู†ุดุงุทุง ู„ู„ู…ุคู…ู†ูŠู† ูˆุณุฑูˆุฑุง ู„ู‡ู… ูˆุชุญุฑุฒุง ู…ู† ุฃุนุฏุงุฆู‡ู… ูุนู„ูˆุง ุฐู„ูƒ. ูˆุฅู† ุฑุฃูˆุง ุฃู†ู‡ ู„ูŠุณ ููŠู‡ ู…ุตู„ุญุฉ ุฃูˆ ููŠู‡ ู…ุตู„ุญุฉ ูˆู„ูƒู† ู…ุถุฑุชู‡ ุชุฒูŠุฏ ุนู„ู‰ ู…ุตู„ุญุชู‡ุŒ ู„ู… ูŠุฐูŠุนูˆู‡

โ€œini adalah pengajaran dari Allah kepada Hamba-Nya bahwa perbuatan mereka [menyebarkan berita tidak jelas] tidak selayaknya dilakukan. Selayaknya jika datang kepada mereka suatu perkara yang penting, perkara kemaslahatan umum yang berkaitan dengan keamanan dan ketenangan kaum mukminin, atau berkaitan dengan ketakutan akan musibah pada mereka, agar mencari kepastian dan tidak terburu-buru menyebarkan berita tersebut. Bahkan mengembalikanย  perkara tersebut kepada Rasulullah [pemerintah] dan yang berwenang mengurusi perkara tersebut yaitu cendikiawan, ilmuan, peneliti, penasehat dan pembuat kebijaksanan. Merekalah yang mengetahui berbagai perkara dan mengetahui kemaslahatan dan kebalikannya. Jika mereka melihat bahwa dengan menyebarkannya ada kemaslahatan, kegembiraan dan kebahagiaan bagi kaum mukminin serta menjaga dari musuh, maka mereka akan menyebarkannya. Dan jika mereka melihat tidak ada kemaslahatan [menyebarkannya] atau ada kemaslahatan tetapi madharatnya lebih besar, maka mereka tidak menyebarkannya.[1]

 

Sebaiknya kita menyaring dulu berita yang sampai kepada kita dan tidak semua berita yang kita dapat kemudian kita sampaikan semuanya.

Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda,

ูƒูŽููŽู‰ ุจูุงู„ู’ู…ูŽุฑู’ุกู ูƒูŽุฐูุจู‹ุง ุฃูŽู†ู’ ูŠูุญูŽุฏู‘ูุซูŽ ุจููƒูู„ู‘ู ู…ูŽุง ุณูŽู…ูุนูŽ

โ€œCukuplah sebagai bukti kedustaan seseorang bila ia menceritakan segala hal yang ia dengar.โ€[2]

 

Ancaman Hukuman terhadap mereka yang suka asal-asalan menyebarkan berita

Hukuman diakhirat yaitu mulut dan pipinya akan dirobek-robek. Sebagaimana dalam hadits berikut.

Dari Samurah bin Jundub radhiyallahu โ€˜anhu, bahwa Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam menceritakan mimpi beliau,

ุฑุฃูŠุช ุงู„ู„ูŠู„ุฉ ุฑุฌู„ูŠู† ุฃุชูŠุงู†ูŠุŒ ูุฃุฎุฐุง ุจูŠุฏูŠุŒ ูุฃุฎุฑุฌุงู†ูŠ ุฅู„ู‰ ุฃุฑุถ ูุถุงุกุŒ ุฃูˆ ุฃุฑุถ ู…ุณุชูˆูŠุฉุŒ ูู…ุฑุง ุจูŠ ุนู„ู‰ ุฑุฌู„ุŒ ูˆุฑุฌู„ ู‚ุงุฆู… ุนู„ู‰ ุฑุฃุณู‡ ุจูŠุฏู‡ ูƒู„ูˆุจ ู…ู† ุญุฏูŠุฏุŒ ููŠุฏุฎู„ู‡ ููŠ ุดุฏู‚ู‡ุŒ ููŠุดู‚ู‡ุŒ ุญุชู‰ ูŠุจู„ุบ ู‚ูุงู‡ุŒ ุซู… ูŠุฎุฑุฌู‡ ููŠุฏุฎู„ู‡ ููŠ ุดุฏู‚ู‡ ุงู„ุขุฎุฑุŒ ูˆูŠู„ุชุฆู… ู‡ุฐุง ุงู„ุดุฏู‚ุŒ ูู‡ูˆ ูŠูุนู„ ุฐู„ูƒ ุจู‡

Tadi malam saya melihat ada dua orang yang mendatangiku, lalu mereka memegang lenganku, kemudian mengajakku keluar ke tanah lapang. Kemudian kami melewati dua orang, yang satu berdiri di dekat kepala temannya dengan membawa gancu besi. Gancu itu dimasukkan ke dalam mulutnya, kemudian ditarik hingga robek pipinya sampai ke tengkuk. Dia tarik, lalu dia masukkan lagi ke dalam mulut dan dia tarik hingga robek pipi sisi satunya. Kemudian bekas pipi robek tadi kembali pulih dan dirobek lagi, dan begitu seterusnya.

Di akhir hadis, Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam dijelaskan Malaikat, apa maksud kejadian yang beliau lihat

ุฃู…ุง ุงู„ุฑุฌู„ ุงู„ุฃูˆู„ ุงู„ุฐูŠ ุฑุฃูŠุช ูุฅู†ู‡ ุฑุฌู„ ูƒุฐุงุจุŒ ูŠูƒุฐุจ ุงู„ูƒุฐุจุฉ ูุชุญู…ู„ ุนู†ู‡ ููŠ ุงู„ุขูุงู‚ุŒ ูู‡ูˆ ูŠุตู†ุน ุจู‡ ู…ุง ุฑุฃูŠุช ุฅู„ู‰ ูŠูˆู… ุงู„ู‚ูŠุงู…ุฉุŒ ุซู… ูŠุตู†ุน ุงู„ู„ู‡ ุจู‡ ู…ุง ุดุงุก

Orang pertama yang kamu lihat, itu adalah seorang pendusta. Dia membuat kedustaan dan dia sebarkan ke seluruh penjuru dunia. Dia dihukum seperti itu sampai kiamat, kemudian Allah sikapi sesuai yang Dia kehendaki.[3]

 

Semoga kita termasuk orang yang bisa selalu mengklarifikasi berita dan tidak termasuk orang yang menyebarkan berita-berita yang tidak bisa dipertanggung jawabkan.

Demikian semoga bermanfaat.

 

Alhamdulillahilladzi bi niโ€™matihi tatimmush shalihaat, wa shallallahu โ€˜ala nabiyyina Muhammad wa โ€˜ala alihi wa shahbihi wa sallam

 

@RS Mitra Sehat, Wates, Yogyakarta Tercinta

Penyusun: Raehanul Bahraen

Sumber : Artikel www.muslimafiyah.com

[1] Taisir Karimir Rahmah hal 170, Daru Ibnu Hazm, Beirut, cetakan pertama, 1424 H

[2]ย  HR. Muslim

[3] HR. Ahmad 20165 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth

PUISI POLIGAMI


aku siap dipoligami

Rayuan SUAMI :
Istriku…,
jika engkau bumi, akulah mentari… Aku menyinari kamu
Dan dikau selalu mengharapkan hangatnya sinarku…
Lalu terbesik dlm hatiku… bukankah Tuhan menciptakan aku bukan hanya untuk bumi??
Ternyata ada planet-planet lain yang juga mengharap hangatnya sinarku

JADI…
Relakanlah aku menyinari planet lain, merasakan hangatnya sinarku, merasakan faedah keberadaanku, karena sudah kodrati.. dan Tuhan pun tak marahโ€ฆ

Balasan Puisi sang ISTRI :
Suamiku, bila kau memang mentari, sang surya penebar cahaya, aku rela kau berikan sinarmu kepada segala planet yang pernah Tuhan ciptakan, karna mereka juga seperti aku butuh penyinaran, dan akupun juga tak akan merasa kurang dengan pencahayaanmu

TAPIIIIIIII..

Bila kau hanya sejengkal lilin yang berkekuatan 5 watt,
jangan bermimpi menyinari planet lain!!! Karena kamar kita yang kecil pun belum sanggup kau terangi…

Oleh: Ust. Firanda Andirja

 

Hukum Merayakan Tahun Baru


0happy_new_year

Sejarah Tahun Baru Masehi

Beberapa hari lagi kita akan menyaksikan perayaan besar, perayaan yang dilangsungkan secara massif oleh masyarakat di seluruh dunia. Ya, itulah perayaan tahun baru yang secara rutin disambut dan dimeriahkan dengan berbagai acara dan kemeriahan.

Perayaan tahun baru masehi memiliki sejarah panjang. Banyak di antara orang-orang yang ikut merayakan hari itu tidak mengetahui kapan pertama kali acara tersebut diadakan dan latar belakang mengapa hari itu dirayakan. Kegiatan ini merupakan pesta warisan dari masa lalu yang dahulu dirayakan oleh orang-orang Romawi. Mereka (orang-orang Romawi) mendedikasikan hari yang istimewa ini untuk seorang dewa yang bernama Janus, The God of Gates, Doors, and Beeginnings. Janus adalah seorang dewa yang memiliki dua wajah, satu wajah menatap ke depan dan satunya lagi menatap ke belakang, sebagai filosofi masa depan dan masa lalu, layaknya momen pergantian tahun. (G Capdeville โ€œLes รฉpithetes cultuels de Janusโ€ inMรฉlanges de lโ€™รฉcole franรงaise de Rome (Antiquitรฉ), hal.ย 399-400)

Fakta ini menyimpulkan bahwa perayaan tahun baru sama sekali tidak berasal dari budaya kaum muslimin. Pesta tahun baru masehi, pertama kali dirayakan orang kafir, yang notabene masyarakat paganis Romawi.

Acara ini terus dirayakan oleh masyarakt modern dewasa ini, walaupun mereka tidak mengetahui spirit ibadah pagan adalah latar belakang diadakannya acara ini. Mereka menyemarakkan hari ini dengan berbagai macam permainan, menikmati indahnya langit dengan semarak cahaya kembang api, dsb.

Tahun Baru = Hari Raya Orang Kafir

Turut merayakan tahun baru statusnya sama dengan merayakan hari raya orang kafir. Dan ini hukumnya terlarang. Di antara alasan statement ini adalah:

Pertama, turut merayakan tahun baru sama dengan meniru kebiasaan mereka. Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam melarang kita untuk meniru kebiasaan orang jelek, termasuk orang kafir. Beliau bersabda,

ู…ู† ุชุดุจู‡ ุจู‚ูˆู… ูู‡ูˆ ู…ู†ู‡ู…

โ€œSiapa yang meniru kebiasaan satu kaum maka dia termasuk bagian dari kaum tersebut.โ€ (Hadis shahih riwayat Abu Daud)

Abdullah bin Amr bin Ash mengatakan,

ู…ู† ุจู†ู‰ ุจุฃุฑุถ ุงู„ู…ุดุฑูƒูŠู† ูˆุตู†ุน ู†ูŠุฑูˆุฒู‡ู… ูˆู…ู‡ุฑุฌุงู†ุงุชู‡ู… ูˆุชุดุจู‡ ุจู‡ู… ุญุชู‰ ูŠู…ูˆุช ุฎุณุฑ ููŠ ูŠูˆู… ุงู„ู‚ูŠุงู…ุฉ

โ€œSiapa yang tinggal di negeri kafir, ikut merayakan Nairuz dan Mihrajan (hari raya orang majusi), dan meniru kebiasaan mereka, sampai mati maka dia menjadi orang yang rugi pada hari kiamat.โ€

Kedua, mengikuti hari raya mereka termasuk bentuk loyalitas dan menampakkan rasa cinta kepada mereka. Padahal Allah melarang kita untuk menjadikan mereka sebagai kekasih (baca: memberikan loyalitas) dan menampakkan cinta kasih kepada mereka. Allah berfirman,

ูŠุง ุฃูŠู‡ุง ุงู„ุฐูŠู† ุขู…ู†ูˆุง ู„ุง ุชุชุฎุฐูˆุง ุนุฏูˆูŠ ูˆุนุฏูˆูƒู… ุฃูˆู„ูŠุงุก ุชู„ู‚ูˆู† ุฅู„ูŠู‡ู… ุจุงู„ู…ูˆุฏุฉ ูˆู‚ุฏ ูƒูุฑูˆุง ุจู…ุง ุฌุงุกูƒู… ู…ู† ุงู„ุญู‚ โ€ฆ

โ€œHai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (rahasia), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu..โ€ (QS. Al-Mumtahanan: 1)

Ketiga, Hari raya merupakan bagian dari agama dan doktrin keyakinan, bukan semata perkara dunia dan hiburan. Ketika Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam datang di kota Madinah, penduduk kota tersebut merayakan dua hari raya, Nairuz dan Mihrajan. Beliau pernah bersabda di hadapan penduduk madinah,

ู‚ุฏู…ุช ุนู„ูŠูƒู… ูˆู„ูƒู… ูŠูˆู…ุงู† ุชู„ุนุจูˆู† ููŠู‡ู…ุง ุฅู† ุงู„ู„ู‡ ุนุฒ ูˆ ุฌู„ ุฃุจุฏู„ูƒู… ุจู‡ู…ุง ุฎูŠุฑุง ู…ู†ู‡ู…ุง ูŠูˆู… ุงู„ูุทุฑ ูˆูŠูˆู… ุงู„ู†ุญุฑ

โ€œSaya mendatangi kalian dan kalian memiliki dua hari raya, yang kalian jadikan sebagai waktu untuk bermain. Padahal Allah telah menggantikan dua hari raya terbaik untuk kalian; idul fitri dan idul adha.โ€ (HR. Ahmad, Abu Daud, dan Nasaโ€™i).

Perayaan Nairuz dan Mihrajan yang dirayakan penduduk madinah, isinya hanya bermain-main dan makan-makan. Sama sekali tidak ada unsur ritual sebagaimana yang dilakukan orang majusi, sumber asli dua perayaan ini. Namun mengingat dua hari tersebut adalah perayaan orang kafir, Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam melarangnya. Sebagai gantinya, Allah berikan dua hari raya terbaik: Idul Fitri dan Idul Adha.
Untuk itu, turut bergembira dengan perayaan orang kafir, meskipun hanya bermain-main, tanpa mengikuti ritual keagamaannya, termasuk perbuatan yang telarang, karena termasuk turut mensukseskan acara mereka.

Keempat, Allah berfirman menceritakan keadaan โ€˜ibadur rahman (hamba Allah yang pilihan),

ูˆ ุงู„ุฐูŠู† ู„ุง ูŠุดู‡ุฏูˆู† ุงู„ุฒูˆุฑ โ€ฆ

โ€œDan orang-orang yang tidak turut dalam kegiatan az-Zuurโ€ฆโ€
Sebagian ulama menafsirkan kata โ€˜az-Zuurโ€™ pada ayat di atas dengan hari raya orang kafir. Artinya berlaku sebaliknya, jika ada orang yang turut melibatkan dirinya dalam hari raya orang kafir berarti dia bukan orang baik.

Artikel http://www.KonsultasiSyariah.com